PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Frozen Fruit Banyuwangi Berhasil Tembus Pasar Jakarta Hingga Mataram

Buah kupas beku (frozen fruit) produksi “Istana Sirsak” Banyuwangi telah menembus berbagai kota di tanah air. Sucipto, pemilik “Istana Sirsak” mengatakan modal awalnya hanya Rp150 ribu, namun kini mampu meraup omzet hingga Rp50 juta per bulan.

Usaha yang berada di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, itu dirintis sejak 2014. Ketika itu, Sucipto melihat potensi sirsak di Banyuwangi cukup berlimpah, namun hilirisasinya belum tergarap maksimal.

Awalnya, ia mengaku prihatin, karena buah sirsak tidak dimanfaatkan maksimal. Lalu ia melakukan survei ke pasar, ternyata sirsak yang sudah masak dibuang, karena masyarakat tidak bisa mengolahnya. Padahal buah itu sangat bermafaat untuk kesehatan. Lalu terpikir olehnya bagaimana memanfaatkannya.

Sucipto lalu tergerak untuk memperpanjang usia sirsak, yakni dengan dibekukan. Bermodal Rp150 ribu, dia bertekad memulai usahanya. Dari modal tersebut, kini omzet penjualannya mencapai Rp. 50 juta per bulan.

“Dua tahun saya jatuh bangun, Alhamdulillah 2016 mulai banyak peminatnya. Bahkan saya sampai kewalahan memenuhi permintaan,” kata Sucipto kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat bertandang ke tempat usahanya, Selasa (22/6).

Sirsak beku produksi Sucipto telah dipasok ke sejumlah pabrik dan restoran di berbagai kota, seperti Jakarta, Banjar, Bali, Surabaya, dan Mataram. “Permintaan untuk Jakarta dan Banjar saja mencapai 1,5 ton per minggu. Itu pun hanya bisa kami penuhi 1 ton karena bahan bakunya terbatas,” kata Sucipto.

Untuk harga, Sucipto membandrol dengan harga sangat kompetitif. “Hanya Rp. 15 ribu per paks, masing-masing 1 kg,” kata Sucipto bisa memproses sekitar 3 kuintal sirsak matang, menjadi 1,5 kuintal sirsak kupas beku, per harinya dengan dibantu 13 karyawan.

“Bahan bakunya saya ambil hanya dari Banyuwangi. Kalau memang stok di sini menipis, saya baru mengambil dari luar daerah. Itu pun jarang, karena pelanggan lebih suka sirsak Banyuwangi. Selain rasanya lebih segar, warna daging buahnya juga lebih putih,” kata dia.

Tak hanya sirsak, Sucipto kini mulai memproduksi buah beku lainnya, seperti strawberry, mangga, nangka, dan kedondong. Juga sari markisa dan air jeruk nipis beku. “Produk kami asli buah segar tanpa pengawet, gula, maupun bahan campuran lain. Sehingga lebih higienis, aman dikonsumsi,” imbuhnya.

Meski sempat terganggu di awal pandemi, Sucipto bersyukur usahanya tetap bertahan. “Di awal pandemi saat restoran dilarang beroperasi, orderan kami menurun jauh. Namun seiring kesadaran orang akan kesehatan tubuh, sirsak beku ini tetap dicari orang,” kata dia.

Sucipto berharap bisa mendapat pasokan buah sirsak lebih banyak lagi dari Banyuwangi. Dia ingin membantu warga yang memiliki tanaman sirsak, tanpa harus mendatangkan sirsak dari kabupaten lain.

Mendengar hal itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani meminta Dinas Pertanian mendampingi warga guna peningkatan produktivitas sirsak. “Bisnis frozen fruit adalah solusi tepat bagi petani hortikultura saat panennya berlimpah. Komoditas yang tidak sempat terjual bisa dibekukan, jadi tidak membusuk percuma. Jadi usaha ini harus kita dukung,” kata Ipuk.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi Arief Setyawan mengatakan untuk membantu ketersediaan sirsak dan markisa, pihaknya akan melakukan sekolah lapang (Good agriculture practises/GAP) untuk petani.

Diharapkan, petani bisa membudidayakan kedua komoditas tersebut dengan teknik yang tepat sehingga bisa mendukung ketersediaan sirsak dan markisa di Banyuwangi. “Selain pelatihan, kami juga akan berikan bantuan bibitnya,” ujar Arief.info/red