PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Lagu Baby Bee Sahabat Belajar Anak di Launch Virtual

Baby Bee

Surabaya,pustakalewi.com – BabyBee telah menghadirkan acara Baby Bee X UNICEF Indonesia dan Chit Chat with BEE Expert. Acara yang ditayangkan di AMTV (Aula Media TV) ini berlangsung menarik dengan pembahasan seputar dunia parenting dan persiapan anak jelang sekolah atau pembelajaran tatap muka.

Acara yang dimulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB ini dibagi menjadi dua sesi utama yakni Virtual Lauching Baby Bee Sahabat Belajar Anak serta Chit Chat with BEE Expert, Sabtu (19/6/2021) kemarin.

Sesi pertama yakni Virtual Launching Baby Bee Sahabat Belajar Anak, hadir Founder dan Co-Founder Baby Bee. Selain Sabathania sebagai founder, hadir juga Dian Rini (Co Founder & Sales & Marketing); Henry Setiawan (Co Founder & Music Director); Vici Raharjo, (Co Founder – Samville Studio); serta Endah Ayu Rahma (Co-Founder & Voice Over Baby Bee).

Di sesi pertama ini Sabathania yang juga cucu seniman lukis Tedja Soeminar dan putri dari Seniman Swandayani ini menjelaskan tentang Baby Bee yang merupakan platform pendidikan anak usia dini untuk mendampingi anak saat belajar. Munculnya platform BabyBee ini menurut Thania diawali dari keresahan dirinya yang merupakan seorang ibu dan mendapati anaknya yang harus belajar secara daring di rumah karena pandemi. Dari kegelisahan Thania yang harus terlibat menemani anaknya belajar di rumah inilah akhirnya melahirkan platform Baby Bee.

Thania dan Rini menjelaskan bahwa Baby Bee ini hadir untuk membantu orangtua untuk mendidik anak belajar di rumah. Untuk memudahkan orangtua mendampingi anak belajar BabyBee menghadirkan kelengkapan atau media belajar seperti buku, lagu dan animasi 2D/3D. Sementara memang masih ada 3 media pembelajaran, namun kedepannya Baby Bee akan terus menghadirkan kelengkapan belajar lain.

Saat ditanya peran pentingnya lagu, Dian Rini menjelaskan bahwa lagu bisa membuat anak bahagia. Namun sayangnya sekarang tidak ada regenerasi lagu yang baik untuk anak belajar. Untuk lagu-lagu yang telah disediakan Baby Bee ini adalah lagu lama anak dan lagu anak original.

Sementara itu untuk buku Baby Bee menghadirkan buku bertema belajar mandiri yang juga akan mengenalkan anak pada budaya Indonesia. Dalam buku-buku tersebut nantinya akan dijumpai beberapa karakter atau tokoh seperti Jojo, Lala, Maca dan Olana. Dari sini maka media-media pembelajaran dari Baby Bee akan bisa mengedukasi anak dan juga menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif. Target dari Baby Bee sendiri adalah anak usia 0-6 tahun.

Mengenai pembuatan animasi, Vici menjelaskan bahwa animasi di BabyB ee ini bertema khas Indonesia banget. Menurut Vici platform Baby Bee sendiri lahir dari kondisi animasi di YouTube yang kurang bagus. Meski proses pembuatan animasi Baby Bee ini cukup lama dan butuh banyak tenaga, Vici tetap bersemangat untuk mengerjakannya.

Sementara itu Rahma sebagai voice over mengatakan bahwa dirinya merasa satu visi dengan Baby bee karena memiliki anak yang masih berada di usia PAUD. Dirinya sebagai voice over pun sangat bersemangat untuk mengisi lagu-lagu anak di Baby Bee.

Setidaknya sudah ada sekitar 25 lagu anak populer yang telah diaransemen oleh BabyBee. Menurut Hendri sebagai music director lagu-lagu di BabyBee, dirinya mencoba sesuatu yang baru dengan memperkenalkan genre-genre yang tak biasa. Sebut saja seperti country dan rap time duet piano pada lagu Lihat Kebunku. Ada juga musik daerah dan sound-sound game yang membuat lagu-lagu di Baby Bee lebih berwarna.

Lebih lanjut menurut Henry dalam lagu-lagu anak di BabyBee sendiri kita juga bisa mendapati gabungan musik lama dan modern. Untuk waktu pembuatan satu aransemen musik ini Hendri mengatakan waktunya tidak tentu tergantung pada mood dirinya.

Kembali lagi pada Thania yang menyatakan bahwa dirinya mendapati kesulitan dalam membangun BabyBee ini ketika menjalankan riset. Untuk rencana ke depan dirinya dan tim berencana akan membuat lagu daerah, aplikasi serta menghadirkan interaksi dengan orangtua dan anak.

Sesi Kedua

bee lagu

Pada sesi kedua acara Virtual Launching Baby Bee X UNICEF Surabaya menghadirkan dua narasumber yaitu Ibu Maria Farida Kurniawati. S. Psi (Psikolog Anak dan Founder Baby Smile School Surabaya) serta Bapak Ermi Ndoen, Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Surabaya. Di sini kedua membahas persiapan anak dan orangtua menghadapi sekolah tatap muka.

Menurut Ibu Farida, untuk persiapan ini sebaiknya orangtua memberikan sosialisasi ke anak tentang pembelajaran tatap muka yang akan dijalankan. Kemudian hendaknya orangtua juga berdialog dengan anak dan orangtua perlu mendengarkan keluh kesah anak. Ketika PTM (Pembelajaran Tatap Muka) ini sudah dekat, sebaiknya orangtua yang sudah yakin perlu menetralisir ketakutan berlebih pada Covid-19.

Ibu Farida juga mengharapkan persiapan juga perlu dilakukan pihak sekolah untuk sarana dan pra-sarana penjunjang pembelajaran tatap muka di masa pandemi tersebut. Menurut Ibu Farida dampak pandemi ini membuat kemampuan adaptasi belajar anak tidak berjalan maksimal. Selain karena sarana dan pra-sarana yang tidak mendukung, kemampuan orangtua dalam mendampingi anak juga tidak maksimal. Dari sini kemudian terjadi penurunan kreativitas pada anak-anak. Anak-anak juga cenderung menjadi cepat bosan, jenuh, tantum dan kurang berdisiplin.

Sementara itu, Bapak Ermi menjelaskan bahwa dukungan dirinya sebagai perwakilan UNICEF mendukung semua pihak termasuk sekolah dalam persiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Selama pandemi ini anak memang sudah banyak kehilangan interaksi dengan teman-temannya.

Meski sekolah sudah direncanakan PTM, menurut Bapak Ermi masih ada beberapa masyarakat yang takut dan ragu untuk memberikan izin anaknya untuk ke sekolah. Dari sinilah maka tim dari sekolah harus mampu menyakinkan orangtua.

Lebih lanjut Bapak Ermi mengatakan bahwa ada sekitar 1,5 miliar anak dari 165 negara terdampak oleh penutupan sekolah karena pandemi. Untungnya sekarang sudah berjalan vaksinasi untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 meski protokol kesehatan masih tetap harus diterapkan secara ketat.

Dalam rencana PTT ini sendiri pemerintah sudah memberikan pedoman atau standar tata aturan sekolah tatap muka. Saat PTT dijalankan, pedoman ini akan memuat beberapa hal yang wajib dijalankan seperti SOP sebelum belajar, saat pembelajaran dan ketika akan pulang sekolah. Nantinya juga akan ada monitoring dan evaluasi berkala ketika PTM sudah berjalan. Bapak Ermi sendiri berharap keadaan kembali seperti sedia kala dan PTT benar-benar berjalan efektif sehingga anak-anak tidak lagi kehilangan hak-haknya.info/red