PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Sembahyang Bacang Tradisi Mengingat Leluhur dan Kebersamaan Keluarga

Sembayang Bacang

Surabaya – Sembahyang Bacang atau Peh Cun dilakukan hanya satu kali dalam setahun, tepatnya pada 5 bulan 5, penanggalan lunar kalender. Tahun ini jatuh pada hari Senin, 14 Juni.

Biasanya warga Tionghoa datang ke kelenteng, vihara dan rumah abu untuk bersembahyang dengan membawa kue bacang sebagai sesaji utama.

Sembahyang Peh Cun tidak hanya mendoakan para leluhur, tetapi juga berdoa kepada Dewa Langit dan Dewa Bumi untuk mendapatkan perlindungan dan kebahagian. Sekaligus mengucapkan syukur atas semua rezeki dan kebahagian yang didapatkan.

Selesai sembahyang, biasanya pula sebagian kue bacang diberikan kepada penjaga kelenteng dan sebagian lagi dibawa pulang untuk disantap bersama keluarga.

Menyantap bacang menjadi tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari warga Tionghoa. Walau sesibuk apapun, mereka tidak melupakan tradisi bacang.

Bacang adalah makanan yang terbuat dari beras ketan sebagai lapisan luar, dalamnya berisi daging, jamur, udang kecil, seledri, dan jahe. Ada juga yang menambahkan kuning telur asin. Untuk perasa biasanya ditambahkan sedikit garam, gula, merica, penyedap makanan, kecap, dan minyak nabati.

Bacang dibungkus dengan daun bambu yang diikat berbentuk limas segitiga. Rasanya enak. Pada hari hari biasa, bacang banyak dijual. Jadi sangat mudah mendapatkan kue bacang yang terasa familiar di lidah masyarakat.

Kata bacang atau bakcang berasal dari dialek Hokkian. Bak berarti daging dan Cang adalah isi, atau berisi daging. Sedangkan yang berisi sayuran disebut chaicang.

Menurut legenda, kue bacang muncul masa Dinasti Zhou. Bacang menjadi salah satu simbol perayaan Peh Cun atau Duanwu. (Berbagai Sumber)