PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Dua Petenis Yunani Torehkan Sejarah di Roland Garros

pertandingan tennis
pertandingan tenis

Surabaya – Dalam sejarah baru kali ini dua petenis tunggal putra dan putri Yunani masuk ke babak semifinal Grand Slam. Mereka adalah Stefanos Tsitsipas dan Maria Sakkari yang mengalahkan lawan-lawannya Rabu (9/6/2021) di ajang Prancis Terbuka atau French Open 2021.

Di perempat final tunggal putri, Maria Sakkari yang kini berada di peringkat 18 dunia menundukkan juara bertahan Prancis Terbuka, Iga Swiatek yang merupakan unggulan kedelapan.

Rolandgarros.com menyebut, sebuah nama baru dipastikan bakal mendapat anugerah trofi Suzanne-Lenglen, piala bagi juara di French Open, setelah Maria Sakkari menyingkirkan juara bertahan asal Polandia itu dua set langsung, 6-4, 6-4.

Maria Sakkari disebut sebagai pembunuhan raksasa. Pada hari Rabu yang hangat di Paris, petenis berusia 25 tahun itu tak tergoyahkan selama 91 menit saat ia mengalahkan juara bertahan Iga Swiatek.

Dengan kemenangan ini, Sakkari menjadi petenis perempuan Yunani pertama yang berhasil mencapai semifinal Grand Slam.

Sebelumnya, ia juga tercatat sebagai perempuan Yunani pertama yang mencapai delapan besar turnamen besar saat mengalahkan Sofia Kenin, peringkat 5 dunia, di babak perdelapan final Grand Slam pertamanya di Roland Garros.

“Saya tidak bisa berkata-kata, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Perjalanan masih panjang tetapi kami membuat langkah besar hari ini,” katanya.

Apabila dia berhasil menjuarai Grand Slam perdananya di Paris maka Sakkari bisa menjadi pemain peringkat 10 besar dunia untuk pertama kali dalam kariernya.

Kemenangan Maria Sakkari menjadi prestasi luar biasa bagi Yunani karena ia tidak sendiri. Rekan senegaranya, Stefanos Tsitsipas, juga melaju ke empat besar tunggal putra

Tsitsipas mempertahankan performa apiknya di lapangan tanah liat Roland Garros dengan mengalahkan unggulan kedua Daniil Medvedev 6-3, 7-6(3), 7-5.

Kemenangan Tsitsipas ini cukup istimewa. Pertama, ini adalah ajang pembalasannya karena ia disingkirkan Medvedev di semifinal Australia Terbuka 2021.

Kedua, sebelumnya Tsitsipas hanya menang sekali dari tujuh pertemuan dengan Medvedev. Artinya Tsitsipas sudah kalah enam kali.

Sejak 2018 sampai 2019 Tsitsipas tak pernah menang dari Medvedev. Berturut-turut ia kalah di lima kesempatan beruntun yakni ATP Masters 1000 Miami (2018), US Open (2018), Turnamen Basel (2018), ATP Masters 1000 Monte Carlo Monaco (2019), dan ATP Masters 1000 Shanghai (2019).

Tsitsipas menang di Turnamen Nitto ATP Finals Inggris (2019), namun kembali kalah pada babak semifinal Australian Open (2021).

Catatan pemain berusia 22 tahun ini memang tidak terlalu mengesankan bagi pecinta tenis Tanah Air. Wajar bila namanya tak begitu tenar.

Ia belum pernah memenangi turnamen Grand Slam. Tujuh gelar yang didapatnya yakni Turnamen Stockholm (2018), Turnamen Nitto ATP Finals, Turnamen Estoril, dan Turnamen Marseille (2019), Turnamen Marseille (2020), Turnamen Lyon dan ATP Masters 1000 Monte Carlo (2021).

Hari ini, Kami (10/6/2021) Tsitsipas dijadwalkan bertemu petenis Jerman Alexander Zverev di laga semifinal. Seandainya mampu melewati hadangan Zverev, tantangan lebih besar sudah di depan mata karena akan ada Rafael Nadal atau Novak Djokovic di final.

Petenis peringkat satu dunia Djokovic akan ditantang Rafael Nadal di semifinal Grand Slam Prancis Terbuka. Langkah Djokovic di semifinal dipastikan setelah dia kerja keras mengalahkan petenis Italia, Matteo Berrettini 6-3 6-2 6-7(5) 7-5, Rabu (9/6/2021).

Seperti diketahui Nadal adalah petenis yang dikenal paling piawai bermain di lapangan tanah liat. Pemain berjuluk Raja Tanah Liat ini telah membuktikannya dengan menjadi juara di Roland Garros sebanyak 13 kali.

Yunani saat ini berlaga di Grup III Zona Eropa. Negara yang berada di peringkat 81 International Tennis Federation (ITF) ini tidak pernah sampai berkompetisi di grup dunia. Meski demikian negeri berpenduduk 10,7 juta jiwa itu pernah mencapai perempat final zona Eropa tiga kali.

Pada prestasi bidang olahraga, Negeri Para Dewa ini pernah menggegerkan dunia persepakbolaan ketika memenangi Piala Eropa 2004. Yunani, tim yang sangat tidak diunggulkan waktu itu tiba-tiba melejit dan sukses menjadi juara mengalahkan tuan rumah Portugal.info/red