PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Ini Modal PDI Perjuangan Berpeluang Besar Hattrick di Pilpres 2024

Megawati dan Jokowi
Ketum PDI Perjuangan Megawati dan Jokowi

Surabaya – PDI Perjuangan dinilai punya peluang besar kembali memenangkan Pemilu Presiden di tahun 2024, alias mencetak hattrick kemenangan setelah dalam dua Pilpres sebelumnya juga menang.

Itu disampaikan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dalam video berjudul ‘Ada Apa Dengan Ganjar? – Burhanuddin Muhtadi yang diunggah di chanel Youtube Helmy Yahya Bicara, pada Jumat (28/5/2021).

Burhan mengatakan, PDI Perjuangan sudah punya dua modal besar untuk memenangi Pilpres tiga kali berturut-turut.

Pertama, PDIP memiliki kader yang juga seorang presiden dengan kinerja yang diakui mayoritas masyarakat. Berdasarkan survei Indikator pada April 2021, di tengah situasi pandemi Covid-19, approval rating Jokowi mencapai 71%.

“Apa yang menyebabkan (approval rating Jokowi tinggi)? Dengan segala kritik kita terhadap penanganan pandemi, ternyata kalau kita lihat data John Hopkins University, kalau ukurannya death rate per million people, masih rendah, orang meninggal karena Covid di Indonesia. GDP kita juga sudah membaik. Kuartal pertama (2021), GDP kita minus 0,74. Coba lihat negara-negara lain, lebih parah,” beber Burhan.

Dari approval rating Jokowi yang tinggi itu, lanjut Burhan, PDI Perjuangan adalah partai yang paling banyak diuntungkan.

Tanpa harus kerja keras, sebutnya, PDI Perjuangan mendapat poin positif. Ditambah lagi, Partai ini juga menguasai banyak kementerian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Selain itu, tambah Burhan, PDIP juga memiliki banyak kader yang masuk dalam bursa capres 2024. Sebut saja, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Sosial Tri Rismaharini, dan Ketua DPR RI Puan Maharani.

Dengan dua modal tersebut, kata Burhan, PDIP berpotensi besar memenangi Pilpres 2024. Meski demikian, imbuhnya, peluang untuk kalah di Pilpres 2024 juga terbuka, apabila melakukan blunder, dalam arti keliru dalam memilih capres.

Oleh karena itu, kata Burhan, PDIP harus mengusung capres berdasarkan elektabilitas yang tinggi.

“Tahun 2014 menang, 2019 menang, 2024 kalau misalnya positioning bagus, kader yang dipilih sebagai capres juga pas. Potensi menang tiga kali berturut-turut besar,” pungkasnya.info/red