PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Sri Sultan Hamengku Buwono X Canangkan Gerakan Indonesia Raya Bergema

Sultan Indonesia Bergema
Gerakan Indonesia Raya Bergema

Yogyakarta – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara resmi mencanangkan Gerakan Indonesia Raya Bergema, pada Kamis (20/05) pukul 10.00 WIB lalu. Momentum ini bertepatan dengan peringatan 113 tahun Hari Kebangkitan Nasional.

Sri Sultan hadir didampingi GKR Hemas di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Sementara, GKBRAy. A. Paku Alam, istri Wakil Gubernur DIY bersama Dharma Wanita Persatuan, hadir secara daring dari Ruang Wisanggeni, Unit IX, Kompleks Kepatihan.

Seremonial pencanangan dilakukan dengan mendengarkan sekaligus menyanyikan Lagu Indonesia Raya diiringi Abdi Dalem Musikan dari Bangsal Mandalasana, Keraton Yogyakarta.

Pencanangan juga dilakukan di 4 tempat lainnya yakni Pasar Beringharjo, Puro Pakualaman, SMAN 1 Pakem, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).

Adapun seremonial pencanangan Indonesia Raya Bergema digelar di Kompleks Kepatihan juga dihadiri Wakil Ketua DPRD DIY, Nuryadi; Sekretaris Daerah DIY, Kadarmanta Baskara Aji; Forkompinda DIY; Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono; Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Edy Suandi Hamid, perwakilan komunitas dan Forum Yogyakarta untuk Indonesia (For You Indonesia) selaku penanggungjawab acara.

Gerakan Indonesia Raya Bergema bertujuan membangun semangat kebangsaan. “Tak cukup dengan hanya menggelorakan lagu kebangsaan, harapannya pemerintah dan masyarakat bisa bersama-sama mengamalkannya,” ungkap Sri Sultan.

“Momentum hari ini sejatinya ingin menggugah ingatan kita, bahwa Indonesia Raya membuat kita untuk bangkit-gumrégah dengan amalan “Bangunlah-Jiwanya, Bangunlah-Badannya”. Di mana bersemayam geest atau ruh yang mampu memperteguh semangat kebangsaan dalam membangun “Indonesia Raya” yang maju dan bermartabat,” terang Sultan.

Sri Sultan menekankan sejatinya perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan jauh lebih berat daripada merebut kemerdekaan.

“Bung Karno pernah berpesan: “Perdjoangankoe lebih moedah karena mengoesir penjajah, perdjoanganmoe akan lebih soelit karena melawan bangsamoe sendiri”. Pesan ini menunjukkan, bahwa memang jauh berbeda perjuangan para Pendiri Bangsa dulu dengan perjuangan kita sekarang ini,” imbuh Sri Sultan.

Sri Sultan mengajak seluruh masyarakat DIY dapat melaksanakan gerakan ini layaknya sebuah serangan kejut yang membawa inspirasi semangat kebangsaan dan hidup di hati masyarakat luas, seperti halnya Serangan Umum 1 Maret 1949.

“Kalau dulu digemakan oleh semangat kebangsaan otentik, kini kita gemakan dengan semangat kebangsaan baru Abad Milenial. Agar dengan demikian, benar-benar mampu Membangun Jiwa-Ragaku demi Tanah-Airku, Tanah Tumpah-Darahku, dan Disanalah Aku Berdiri seraya Berseru, Indonesia Bersatu!,” urai Sri Sultan.

Lebih lanjut, Sri Sultan mengatakan bahwa gerakan ini layaknya sebuah kegotongroyongan dengan semangat nasi bungkus, wujud solidaritas sosial dan ekspresi kultural.

“Bagaikan ombak besar samudera yang menggelora, seperti halnya aksi massa damai Sejuta Rakyat Yogyakarta pada 20 Mei 1998. Atau kerja-kerja berantai yang “golong-gilig” saat segenap elemen masyarakat bahu-membahu membantu korban bencana gempa 2006, dan erupsi Merapi 2010,” ujar Ngarsa Dalem.

Sementara itu, GKR Hemas, mengutarakan bahwa gerakan Indonesia Raya Bergema merupakan sebuah upaya untuk menjaga semangat nasionalisme dan kebangsaan.

“Kita tidak selalu ada upacara, namun masyarakat harusnya terus menerus mendengarkan Lagu Indonesia Raya sebagai kekuatan bangsa sendiri. Ini menyadarkan kita tidak hanya negara lain saya yang bisa menyanyikan lagu kebangsaan di setiap event, namun justru Indonesia, dari Jogja, bisa melantunkan lagu Indonesia Raya di seluruh Jogja dan semua provinsi,” ujar GKR Hemas.

GKR Hemas berharap, masyarakat Jogja dapat melakukan aktivitas ini sebagai simbol untuk bisa terus menyasar ke seluruh Indonesia. “Membangun nasionalisme kebangsaan, mengingat kembali perjuangan-perjuangan kemerdekaan,” tutup GKR Hemas.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, juga berpartisipasi dalam agenda Pencanangan Gerakan Indonesia Raya Bergema. Hadir secara daring, Ganjar menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Ngarsa Dalem akan gerakan Indonesia Raya Bergema.

“Ketika semua pusing, kebingungan soal pandemi, spirit nasionalisme justru dikumandangkan dari Jogja, oleh Ngarsa Dalem, saya sangat terinspirasi soal itu. Ini contoh yang sangat baik. Harapan, ajakan, dan gerakan yang sangat baik,” ujarnya.

Inspirasi Ngarsa Dalem patut dijadikan contoh dan pengingat untuk selalu menjaga dan merawat republik dengan semangat kebangsaan. “Saya sampaikan kepada teman-teman di Jawa Tengah, termasuk di masjid-masjid juga saya minta speaker dinyalakan untuk mengumandangkan lagu Indonesia Raya,” tambahnya.

Sebelumnya, pada Selasa (18/05), Gubernur DIY telah mengeluarkan SE No.29/SE/V/2021 tentang Memperdengarkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Sekretaris Daerah DIY, Kadarmanta Baskara Aji menuturkan bahwa berdasarkan SE, sejatinya lagu Indonesia Raya dapat diperdengarkan secara kontinu di ruang publik seperti lembaga pendidikan, kantor pemerintah/swasta, pusat perbelanjaan, dan lainnya sebagai kampanye berkelanjutan untuk mengobarkan nasionalisme.

“Namun sesuaikan saja, seperi di Samsat dilakukan saat memulai layanan jam delapan pagi. Jangan diperdengarkan kalau di tempat itu tidak memungkinkan orang untuk berdiri, sikap tegak. Misal, di rumah sakit, kalau ada operasi bagaimana, silakan disesuaikan saja,” kata Aji.

“Yang paling pas itu mungkin ya sebelum memulai pekerjaan. Sebagai tanda kita bekerja, misal di mal. Itu ya pada saat dimulai layanan, kalau ada yang pas masuk ya sudah ikut berdiri dulu,” tukas mantan Kepala Disdikpora DIY ini.

Menurutnya, prinsip gerakan ini adalah melahirkan kesadaran tanpa paksaan atau rasa takut. “Jangan jadi beban. Tidak akan ada sanksi, karena kita menumbuhkan rasa bangga. Orang melakukan karena senang, bukan kewajiban. Kecuali lagi upacara atau acara resmi,” pungkas Aji.info/red