PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Presiden Jokowi Ingatkan Kepala Daerah agar Kendalikan Peningkatan Keterisian Kamar Hotel

Jokowi pidato
Presiden Joko Widodo

Surabaya – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, selama libur panjang Hari Raya Idulfitri, telah terjadi peningkatan keterisian kamar hotel. Karena itu, ia mengingatkan kepala daerah di empat provinsi yang mengalami peningkatan keterisian kamar hotel cukup tajam, agar dapat mengendalikannya dengan manajemen yang tepat.

“Hati-hati masalah keterisian hotel, keterpakaian hotel. Ini kita sekali lagi menginjak gas dan remnya harus pas,” kata Jokowi Jokowi saat memberikan pengarahan secara virtual kepada kepala daerah se-Indonesia dari Istana Negara, Jakarta, Senin (17/5/2021) yang disiarkan melalui youtube Sekretariat Presiden pada Selasa (18/5/2021).

Keempat daerah yang mengalami peningkatan keterisian kamar hotel, di antaranya, Kepulauan Riau (Kepri), DKI Jakarta, Banten dan Lampung.

“Kepri ada kenaikan keterisian hotel, keterpakaian hotel dari 10 lompat jadi 80, itu baik untuk ekonomi tapi hati-hati untuk Covid-nya, hati-hati. DKI Jakarta juga naik dari 36 melompat ke 53 juga hati-hati. Banten dari 26 ke 43 hati-hati. Lampung dari 30 ke 45 hati-hati,” ujar Jokowi.

Bila dilihat dari sisi ekonominya, Kepala Negara menilai, peningkatan keterisian kamar hotel merupakan hal yang baik. Namun bila dilihat dari sisi pengendalian Covi-19 harus ditingkatkan kewaspadaan agar tidak terjadi ledakan kasus positif dikarenakan banyak mobilitas masyarakat di hotel-hotel tersebut. Penerapan protokol kesehatan harus dilakukan dengan sangat ketat.

“Sisi ekonominya baik, sisi Covid-nya harus dikendalikan betul, hati-hati protokol kesehatan. Kalau dua-duanya bisa dikelola dengan baik dan dikendalikan dengan manajemen yang ketat, ya ini akan baik-baik saja mengenai keterisian kamar-kamar hotel. Tapi kalau tidak bisa mengendalikan, hati-hati,” tegas Jokowi.

Lebih lanjut, Presiden menekankan pentingnya indikator pengendalian Covid-19 yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jokowi menyoroti indikator kapasitas respons terkait tracing yang masih lemah.

“Ini penting sekali, yang berkaitan terutama pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ini harus bersama-sama urusan yang berkaitan dengan testing. Makin banyak semakin baik. Kemudian yang berkaitan dengan tracing, ini hati-hati,” ungkap Jokowi.

“Jadi kalau ada 1 orang yang positif dan itu harus dilacak betul dia kontak dengan orang lain lebih dari 15 menit dan jarak minimalnya kurang lebih 1 meter, beberapa orang itu yang harus segera di cek betul, diisolasi, dikarantina. Ini kelemahan kita ada di sini di nomor 2, di tracing. Baru ke perawatan, di treatment. Saya kira saudara-saudara tahu mengenai ini,” kata Jokowi lagi.info/red