PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Pakai Buah Mangrove, Mahasiswa ITS Tawarkan Makanan Pendamping ASI

makanan pendamping asi
Mahasiswa ITS Ciptakan makanan pendamping ASI

Surabaya,pustakalewi.com – Miftahul Jannah, Sarazen Shalahuddin Akbar, Widya Anastasya Ningtiyas, Nova Ainur Rohma, dan Ardi Lukman Hakim adalah mahasiswa dari Departemen Kimia ITS berhasil mengolah buah mangrove menjadi Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan nama RooveBites yang bebas gluten aman dikonsumsi semua bayi.

MPASI yang beredar di pasaran banyak mengandung protein berupa gluten, karena masih berbasis tepung terigu dan tidak semua bayi dapat mengonsumsi gluten. “Gluten dapat menimbulkan gangguan jaringan saraf dan fungsi otak bagi bayi penderita autisme dan penyakit celiac,” ungkap Miftahul Jannah, ketua tim.

Lebih lanjut Miftahul menjelaskan salah satu bahan pangan bebas gluten yang bernutrisi tinggi adalah buah mangrove. Adapun buah mangrove yang digunakan berjenis lindur dengan kandungan nutrisi tinggi dan dapat diolah menjadi tepung. Tepung buah mangrove memenuhi kriteria bahan pangan sehat, yaitu mengandung protein, serat, dan vitamin.

“Pemanfaatan buah mangrove upaya memaksimalkan potensi sumber daya lokal yang melimpah namun belum banyak dimanfaatkan,” tambah mahasiswi angkatan 2019 ini.

Selain tepung buah mangrove juga ditambah kandungan asam amino dan riboflavin dari Glycine max. “Asam amino dan riboflavin merupakan mikronutrien yang diperlukan dalam masa pertumbuhan bayi,” terang gadis kelahiran Sukoharjo ini.

Sebelum diolah menjadi bubur dan biskuit, buah mangrove terlebih dahulu diproses menjadi tepung. Pada tahap awal, buah dikupas dan dipotong lalu direbus selama 20 menit. Tahapan berikutnya buah kembali direbus menggunakan abu sekam lalu dicuci.

“Pada perebusan kedua buah perlu direbus lebih lama untuk menghilangkan kandungan sianida dan tanin yang berbahaya bagi kesehatan,” papar mahasiswi kelahiran Juli 2001 ini.

Hasil perebusan kedua setelah dicuci, direndam selama 48 jam, lalu dikeringkan dan digiling menggunakan blender. Setelah digiling, buah akan berbentuk tepung yang kemudian akan dicampurkan dengan Glycine max.

“Tepung inilah yang kemudian diolah menjadi bubur instan dan biskuit yang pengolahannya seperti pada umumnya,” jelas alumnus SMAN 1 Sukoharjo ini.

MPASI RooveBites berasal dari dua kata, yaitu Roove artinya mangrove dan Bites artinya gigitan. RooveBites memiliki dua varian produk, yaitu RooveBites Porridge berupa bubur untuk bayi berusia di bawah 6-12 bulan dan RooveBites Toddler berbentuk biskuit untuk bayi berusia di atas 12 bulan.

RooveBites menggunakan kemasan berbahan aluminium foil untuk meminimalisir masuknya udara dan bakteri karena material ini tidak bisa ditembus cahaya matahari.

“RooveBites Porridge dikemas dalam bentuk sachet dan RooveBites Toddler dalam bentuk standing pouch,” sambung mahasiswi yang saat ini aktif di Himpunan Mahasiswa (Hima) Kimia ITS.

Pemasaran produk rencananya melalui daring lewat platform e-commerce dan mempromosikan produk di lokasi yang ditargetkan. “Pemasaran offline mengutamakan daerah sekitar toko bayi, rumah sakit anak dan bayi, klinik anak dan bayi, tempat penitipan anak dan bayi, serta komunitas pengidap autisme,” terangnya.

Ke depannya, tim yang dibimbing Herdayanto Sulistyo Putro SSi MSi berharap produk dapat diuji lebih lanjut sehingga memberikan manfaat kepada masyarakat dan dapat dipasarkan dalam skala nasional hingga internasional.

Atas karyanya, mereka berhasil meraih medali silver dalam kompetisi Business Plan yang diadakan Edutainer Nusantara Fair (ENF) 2021.pr/red