PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Sejarah Likuidasi Perbankan Era Pendudukan Jepang

bangunan bersejarah
Bangunan bersejarah

Surabaya – Ketika Jepang berkuasa di Indonesia, salah satu hal pertama yang dilakukan adalah melikuidasi bank-bank beroperasi. Salah satu bank yang dilikuidasi adalah De Javasche Bank, bank-bank milik Belanda, Inggris dan beberapa bank Cina. Likuidasi dilakukan untuk mendukung kegiatannya di Nusantara.

Selanjutnya, Pemerintah Pendudukan Militer Angkatan Darat Jepang atau Gunseikanbu menetapkan dan mengumumkan Nanpo Kaihatsu Ginko (NKG) sebagai bank sirkulasi untuk wilayah Asia Tenggara.

Jepang memanfaatkan tenaga-tenaga staf dan tata usaha dari bank-bank, termasuk De Javasche Bank, yang dilikuidasi. Mulanya staf bank yang dilibatkan dalam jumlah banyak, hingga akhirnya mengerucut menjadi tim inti yang terdiri dari beberapa staf De Javasche Bank.

Muncul dilema besar dalam benak para staf yang dilibatkan dalam proses likuidasi yang harus bekerjasama dengan pihak likuidator, sekalipun diberi posisi sebagai penasehat likuidasi.

Namun akhirnya mereka memutuskan mau bekerjasama secara pasif, karena para staf bank Belanda tersebut masih dapat memata-matai tindakan Jepang dalam melikuidasi bank-bank mereka.

Selama masa pendudukan itu beberapa pegawai De Javasche Bank meninggal dunia, baik karena melawan Jepang atau meninggal dalam kamp interniran milik tentara Jepang.

Kondisi mengenaskan itu juga dialami oleh Buttingha Witchers, Presiden De Javasche Bank yang masih bertahan di Jawa. Buttingha Witchers ditahan selama 10 bulan oleh Kempetai di Bandung, Jakarta dan Bogor.

Selebihnya ia hidup dalam kamp tawanan di Jakarta, Bandung dan Cimahi. Keadaan itu berbeda dengan yang dialami oleh R.E. Smits, salah seorang Direktur De Javasche Bank, yang mengikuti rombongan pemerintah Hindia Belanda ke luar Hindia Belanda.info/red