PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Dua Mantan Napi Mengadu ke LPBH NU Sidoarjo Minta Keadilan‎

andri sidoarjo
Konsultasi Keluarga dengan LPBH NU Sidoarjo

Sidoarjo, Pustakalewi.com – Dua remaja mantan narapidana kasus pencurian kotak amal Masjid mengadu ke Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH NU) Sidoarjo pada hari Jumat (26/01) di gedung Balai Wartawan PWI Jalan Ahmad Yani Sidoarjo untuk mencari keadilan. Kepada Ketua LPBH NU H. S. Makin Rahmat dan beberapa wartawan, mereka mengaku tidak pernah melakukan atas apa yang dituduhkan hingga keduanya ditetapkan bersalah oleh Pengadilan Negeri Sidoarjo dan divonis hukuman enam bulan penjara.

Kedua remaja tersebut bernama Diki (19 tahun) sebagai terdakwa 1 (satu) yang datang didampingi kakaknya Rendi dan Akhmad Khoirul Ibad (18) sebagai terdakwa 2 (dua) bersama ibu kandungnya Ngateni (50). Mereka (Diki dan Ibad, red.) baru bebas dari Lapas Kelas llA Delta Sidoarjo pada bulan Nopember 2016 lalu dan sama-sama ber-KTP di Ds. Jedongcangkring RT13 RW 03 Kec. Prambon, Sidoarjo.

Mereka sebelumnya mengaku dan bersumpah tidak pernah melakukan atas apa yang dituduhkan yaitu mencuri kotak amal Masjid Al-Abror, Desa Jedongcangkring, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, yang sebelumnya ada laporan kalau Kotak amal Masjid Al- Abror hilang. Kotak amal ini ditemukan oleh warga sudah kondisi kosong di sungai area pesawahan wilayah desa tersebut. Dan sesuai laporan polisi Nomor LP/30/V/2015/JATIM/RES SDA/SEK PRB atas nama pelapor Suyitno pada Rabu tanggal 20 Mei 2015, bahwa terjadi pencurian kotak amal Al-Abror.‎‎

Keduanya divonis bersalah oleh hakim PN Sidoarjo dengan Hakim Ketua Erly Soelustyarini dan dua Hakim Anggota, Eko Supriyono dan Yohanes Hero Sujaya dengan hukuman penjara enam bulan pada 19 Oktober 2016. Keduanya baru bebas pada bulan Nopember 2016.

Menurut pihak keluarga, kasus pencurian kotak amal yang menjadikan mereka (Diki dan Ibad, red.) pesakitan dinilai hanya rekayasa oknum anggota polisi berinisial STJ dan juga Suyitno oknum aparatur desa tersebut. Dari cerita mereka, sebelumnya pernah kontra hubungan anatara kedua oknum aparat tersebut dengan orang tua terpidana Diki karena beda dukungan dalam pemilihan kepala desa.

Rendi, kakak Diki, menceritakan kepada Ketua LPBH NU Sidoarjo dan para wartawan tentang kronologis hilangnya kotak amal. Namun hingga selama setahun, tidak terungkap siapa pelakunya saat itu.

Pada tahun 2016, tepatnya tanggal 20 Mei, ada kasus pencurian ayam milik anggota polisi yang berdinas di Polsek Prambon. Dari hasil penyelidikan menghasilkan seorang terduga pencurinya bernama Fian, pemuda setempat. Dari hasil interograsi pihak berwajib akhirnya Fian mengaku bahwa Ibad yang bagian menjual ayam curian itu.

Dari cerita Ibad, dirinya mengaku diajak Fian bertemu anggota kepolisian yang bertugas di Mapolsek Prambon selaku pemilik ayam yang hilang. Di depan anggota tersebut Ibad mengakui menjual ayam disuruh Fian namun Ibad juga mengaku tidak tahu kalau ayam tersebut adalah hasil curian. Ibad pun juga mengatakan dirinya disuruh mengakui mencuri kotak amal masjid oleh oknum kepolisian tersebut.

“Saya disuruh jual ayam sama Fian dikasih rokok satu bungkus, setelah saya pulang kerumah sekitar jam empat sore saya dijemput Fian diajak ke sebuah rel, setelah nunggu satu kam oknum polisi tersebut datang, ada orang empat yang tiga bukan polisi, terus saya diajak ngomong enak-enakan tapi saya tidak mengakui dan saya ditakut-takuti dengan ditodong dengan pistol, saya di eret-eret disuruh mengkui nyolong kotak amal dengan Diki. Saya takut dan akhirnya saya terpaksa mengakui, katanya kalu saya bilang ngajak Diki, saya akan dilepas,” kata Ibad saat menceritakan pertemuannya di wilayah Prambon.

Ibad juga mengatakan, bahwa tiba-tiba masalah pencurian ayam tidak dibahas. Kemudian Ibad disidang di Balai Desa Jedongcangkring dengan disaksikan orang banyak ‎disuruh mengaku mencuri kotak amal dengan Diki.

Pada kesempatan yang sama, Diki menceritakan bahwa pada saat itu dia dijemput Suyitno perangkat desa situ untuk diajak ke balai desa yang mana Ibad sudah berada di balai desa lebih dulu. “Saya dijemput pak Suyitno dirumah, tidak tau ada apa dan kemudian saya diantar bapak saya ke balai desa, lha kok di balai desa sudah ada Ibad sedang nangis sambil bilang kalau dia mencuri kotak amal bersama saya,” papar Diki.

Dari kedua pengadu, Fian selaku yang pertama kali diduga pencuri ayam, tiba-tiba hilang dan sampai sekarang keberadannya tidak diketahui.‎

Rendi menambahkan, keduanya itu tidak pernah melakukan tindakan mencuri kotak amal hingga disidangkan di PN Sidoarjo 27 Juli 2016. Dalam kasus ini, keluarganya juga mencari keadilan dengan melaporkan Suyitno ke Polda Jatim.‎

Suyitno dilaporkan karena sudah memberikan keterangan palsu dalam persidangan Ibad dan Diki bahwa pada tanggal 20 Mei 2016 telah terjadi lagi pencurian kotak amal kedua kalinya di Masjid Al Abror, yang sesuai dengan keterangan tertulis dari Kades Jedongcangkring Soedikman Pribadi menyatakan pada tanggal 20 mei 2016 di desanya tidak terjadi kehilangan apapun.

“Tapi kesaksian Suyitno dalam persidangan mengatakan pada 20 mei 2016 ada pencurian kotak amal kedua kalinya. Suyitno memberikan keterangan palsu sehingga adik saya dan Ibad divonis bersalah oleh hakim,” tandas Rendi.

Sementara itu, Ketua LPBH NU H. S Makin Rahmat, membenarkan adanya konsultasi yang dilakukan oleh keluarga Diki dan Ibad dalam soal kasuistik yang dinilainya menarik itu. Makin menjelaskan menarik karena melibatkan oknum dalam merekayasa kasus yang terjadi.

“Kedua keluarga itu masih sebatas konsultasi soal kasus yang dialami. Setiap warga negara berhak mencari dan mendapat keadilan jika sampai ada perlakuan yang tidak pernah dilakukan, tapi dituduhkan bahkan disalahkan, saya akan pelajari dulu kasus nya,” tegas Makin di depan pengadu dan wartawan.

Sejak Desember 2016 lalu, lanjut Rendi, mereka sudah melaporkan Suyitno ke Polda Jatim dan sudah dilimpahkan ke Polresta Sidoarjo. Namun sampai sekarang tidak ada kelanjutan. “Saya dan Ngateni, Salamun, Ibad dan Hanafi, sudah dipanggil oleh Unit PIDUM Polresta Sidoarjo untuk dimintai keterangan, tapi sudah setahun lebih laporan saya masuk tidak ada kejelasannya. Terakhir saya konfirmasikan ke Unit Pidum, masih dalam penyelidikan,” papar Rendi dengan nada kesal.

Reporter: Andri