PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Negara Belum Punya Desain Besar Menangani Keberagaman

image 9

Surabaya, Pustakalewi.Net – Setelah sekian puluh tahun merdeka, keberadaan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa dinilai belum mempunyai suatu desain besar [grand strategy] tentang bagaimana mengelola keberagaman masyarakatnya, baik dari sisi agama, ras, suku, budaya dan lain-lain.

Ini adalah salah satu hal yang terungkap dalam diskusi peringatan hari toleransi dunia yang dilaksanakan oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia [GMKI] Surabaya pada Selasa malam (16/11) di Student Centre GMKI Surabaya.

Hadir sebagai pembicara sekaligus pematik diskusi yang diikuti oleh pengurus dan anggota GMKI Surabaya adalah Victor Immanuel Nalle, senior GMKI yang juga menjadi pengajar di Fakultas Hukum Universitas Katolik Darma Cendika [UKDC] Surabaya.

Diskusi yang mengambil bahasan utama tentang Agama, Toleransi, dan Terorisme ini dibuka melalui paparan Victor Nalle yang membuka diskusi dengan mengambil isu-isu nasional yang terkait dengan kebebasan beragama dan berekspresi. Salah satu yang disinggungnya adalah tentang Surat Edaran Kapolri tentang ujaran kebencian (hate speech).

Kerangka kebijakan tentang toleransi dan juga berbagai wacana dan tindakan intoleran di masyarakat mencoba untuk dijawab negara melalui rezim pemerintahan yang sekarang. Namun, keberadaan berbagai regulasi terutama hukum positif yang mencoba untuk mengatur tentang tindakan-tindakan intoleran tersebut menurutnya juga dilematis mengingat tafsir hukumnya belum jelas dan rawan digunakan untuk kepentingan-kepentingan praktis yang tidak ada kaitannya dengan problem intoleransi di masyarakat.

Pembahasan berikutnya bergulir di sekitar tema aktual tentang kejadian serangan terorisme di Prancis yang sudah memakan korban sipil lebih dari 150 orang. Arnold Panjaitan selaku ketua cabang GMKI Surabaya misalnya menilai tindakan tersebut tidak berperikemanusiaan dan menyerang peradaban. Peserta diskusi yang lain menanggapi dengan kekhawatiran bahwa imbas dari kejadian ini adalah semakin mengerasnya pertentangan berbasis isu agama yang juga rawan terjadi di Indonesia. Di sesi terakhir, diskusi mengarah kepada kondisi di Indonesia yang mau tidak mau juga terkena imbas dari perkembangan global dimana radikalisasi agama semakin menguat. Indikator lainnya adalah kelas menengah yang seharusnya terbuka ternyata dari hasil penelitian dan fakta di lapangan justru semakin mengeras arus fundamentalisme keagamaan.