PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Semangat Kegerakan dalam GO Fest Conference Surabaya 2015

gofest
Go Fest Conference Surabaya 2015

Surabaya, Pustakalewi.net – Semangat kegerakan pekabaran Injil selalu menjadi isu sentral dalam dunia Kekristenan. Tak heran berbagai kegiatan diadakan untuk menumbuhkan semangat dalam menyebarkan kabar baik ini ke seluruh dunia. Salah satu kegiatan bertingkat internasional bulan Juni ini diadakan di Surabaya dengan tajuk “GO Fest Conference Surabaya 2015.”

“GO Fest Conference Surabaya 2015” yang diinisasi oleh salah satu organisasi penginjilan terbesar dunia Youth With A Mission (YWAM) ini merupakan satu dari rangkaian kegiatan serupa yang diadakan di berbagai penjuru dunia. Selain Surabaya, kota atau negara yang masuk dalam rangkaian GO Fest Conference 2015 adalah Singapura, Timor Leste, Perth, Melbourne, dan Sidney. Secara umum konferensi ini bertujuan untuk memperlengkapi dan melatih umat Tuhan untuk memuridkan bangsa-bangsa.

Di Surabaya, penyelenggaraan “GO Fest Conference Surabaya 2015” dipusatkan di Royal Praise Hall, GBI ROCK, Wiyung Surabaya pada 11-13 Juni. Selama tiga hari ini peserta yang datang dari berbagai penjuru Indonesia menjalani kegiatan dnegan jadwal yang cukup padat mulai pagi sampai malam hari. Di hari pertama acara dibuka melalui kegiatan ibadah yang terbuka untuk umat Kristen di Surabaya. Hari kedua dan ketiga baru diisi oleh berbagai kegiatan mulai workshop, seminar, dan perayaan.

Beberapa tokoh penginjilan nasional dan internasional menjadi pembicara dalam sesi seminar dan workhsop. Dari Indonesia, ada Dr. Jonathan Pattiasina yang memiliki pelayanan di Gereja Garam (Garam Ministry Community Church) dan Indonesia Sejahtera atau Integrated Society Rescue Action (ISRA). Juga Dr. Timotius Arifin yang juga sangat familiar di kalangan gereja dengan pelayanannya di GBI ROCK. Hadir pula Ruland Letedara yang saat ini menjabbat sebagai direktur YWAM Sentani-Papua.

Tokoh penginjilan internasional yang hadir adalah direktur nasional YWAM Singapura Joseph Chean, pendiri lembaga penginjilan internasional Operation Mobilisation (OM) George Verwer, dan pendiri YWAM Loren Cunningham. Sesuai dengan tema kegiatan ini yaitu “Memuridkan Bangsa-bangsa”, para narasumber ini menyoroti berbagai aspek penginjilan di tengah masyarakat, terutama dalam konteks Indonesia

Keberadaan Loren Cunningham di Surabaya dalam kegiatan ini menjadi magnet yang mampu menarik perhatian para peserta. Di usia yang menjelang 80 tahun, pria kelahiran Taft, California ini masih tampil dengan semangat tinggi dan berbicara dengan lantang dan tegas dalam dua sesi seminar utama.

Loren Cunningham yang di kalangan umat Kristen Indonesia dikenal lewat bukunya yang membahas tentang Alkitab dan Umat Kristen yang mampu mentransformasi bangsa-bangsa, banyak memberikan berbagai perspektif menarik tentang bagaimana melakukan pekabaran Injil. Tak lupa, dibagikan juga berbagai kesaksian yang penuh mukjizat dalam menjawab panggilan Tuhan melalui pelayanannya yang telah berjalan lebih dari lima dekade ini.

Misalnya dia menceritakan tentang bagaimana awal pelayanannya di YWAM, bagaimana teladan pekabaran Injil yang dilakukan di Hawai yang dulu belum mengenal Kristus, dan bagaimana Tuhan mengutusnya untuk mengabarkan Injil di berbagai tempat yang dalam kalkulasi manusia sangat sulit, seperti di Jerman Timur dan negara-negara Eropa Timur yang saat itu masih tertutup. Juga kesaksian tentang bagaimana para misionaris melayani dengan mempertaruhkan nyawa dalam melakukan pekabaran Injil di wilayah-wilayah konflik serta wilayah-wilayah pedalaman yang belum pernah bersentuhan dengan peradaban modern.

Loren Cunningham juga membahas tentang berbagai tantangan zaman yang harus segera dijawab oleh umat Tuhan terutama di Indonesia. Cunningham merujuk kepada konsep tujuh wilayah atau dimensi kehidupan yang harus dikerjakan juga sebagai ladang pelayanan oleh umat Tuhan: Seni, Bisnis, Gereja, Media, Pendidikan, Keluarga, & Pemerintahan. Kehadiran umat Tuhan mutlak harus ada di bidang-bidang tersebut supaya bisa mentransformasi dan menjadi berkat bagi bangsa. Cunningham beberapa kali menyebutkan contoh pelayanan yang dibangunnya di YWAM yang menjadikan ladang pelayanan sosial sebagai salah satu sarana pekabaran Injil.

Esensi penting dari uraian Loren Cunningham sepanjang GO Fest Conference Surabaya 2015 ini adalah bagaimana umat Kristen Indonesia harus mampu melakukan pekabaran Injil sekaligus menjawab berbagai permasalahan bangsa ini. Ini artinya panggilan keluar bagi orang-orang percaya harus diaktualisasikan dan tidak lagi hanya berpusat pada kepentingan umat Kristen itu sendiri, tapi pada kepentingan yang lebih luas, yakni bagaimana Kekristenan bisa menjadi garam dan terang bagi bangsa Indonesia.

Reporter: Santo