PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Isu Aborsi Membelah Peru

peru

Lima – Tidak hanya di Indonesia atau di Amerika Serikat, isu aborsi juga sedang menjadi perdebatan luas di salah satu negara benua Amerika Latin, Peru. Isu ini tidak hanya menjadi bahan perdebatan para elit politik, tapi juga membelah rakyat Peru menjadi dua kelompok besar, yang pro dan kontra.

Fokus dalam perdebatan terbaru dalam isu aborsi ini adalah tentang apakah diperbolehkan atau tidak wanita korban pemerkosaan menggugurkan janin yang dikandungnya.

Beberapa kelompok sipil dan penggiat hak asasi manusia merupakan kekuatan utama yang mendorong dekriminalisasi aborsi dalam konteks ini. Situs berita Inggris, The Guardian melaporkan bahwa beberapa kelompok penggiat hak-hak perempuan bahkan sudah melakukan kampanye dan berhasil mengumpulkan 64.200 tanda tangan sebagai bukti dukungan terhadap regulasi yang memperbolehkan perempuan memilih aborsi (pro-choice).

Sementara itu, kelompok yang menolak bentuk aborsi semacam ini (pro-life) berupaya menolak keras disahkannya regulasi yang nantinya akan melonggarkan kebijakan aborsi di negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik Roma ini.

Peru merupakan satu diantara enam negara Amerika Latin yang selama ini menerapkan kebijakan anti aborsi yang keras. Satu-satunya kondisi yang diperbolehkan dalam melakukan aborsi menurut regulasi tersebut adalah alasan terancamnya nyawa sang ibu. Menurut peraturan yang sudah berlaku sejak 1924 ini, tindakan aborsi yang ilegal diancam hukuman satu sampai enam tahun penjara.

Salah satu pendukung kebijakan anti aborsi adalah gereja yang dalam konteks kehidupan sehari-hari masyarakat Peru mempunyai pengaruh yang cukup kuat. Kelompok konservatif yang  cukup kuat di parlemen Peru juga sudah menyatakan dukungannya terhadap kebijakan anti-aborsi. (Santo)

Sumber: The Guardian