PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Penghuni Rudenim Surabaya Masih Tunggu Proses UNHCR

rudenim
Rumah Detensi Imigrasi Surabaya

Surabaya, Pustakalewi.net – Para imigran yang menghuni Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Surabaya, yang terletak di Desa Raci, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, masih menunggu proses dari UNHCR untuk penentuan status legal mereka serta penempatan ke negara ketiga.

Penghuni Rudenim Surabaya sendiri sampai hari Selasa (19/06) tinggal 10 orang dari negara Afghanistan, Iran, Sudan, Myanmar, dan Eritrea (Ethiopia). Berdasarkan penuturan petugas Rudenim, enam orang diantaranya sudah mendapat status pengungsi, sedangkan sisanya masih dalam proses pengajuan suaka ke badan khusus PBB yang mengurusi masalah pengungsi tersebut.

Seperti yang diketahui, semua proses penentuan status para imigran gelap, yang sebagian besar dari Timur Tengah dan Asia Selatan, yang membanjiri Indonesia akhir-akhir ini dengan tujuan ke Australia, ditentukan oleh UNHCR karena Indonesia saat ini menjadi negara yang belum meratifikasi konvensi dan protokol internasional tentang pengungsi. Hal ini pula yang menyebabkan proses menjadi  lama bagi para penghuni Rudenim khususnya di Surabaya, karena tidak ada perwakilan tetap atau regular di Surabaya.

Petugas di Rudenim yang dikepalai Iwan Rustiawan ini juga mengungkapkan bahwa para imigran penghuni Rudenim sering berkeluh-kesah dan berkali-kali menanyakan kejelasan statusnya. Pihak Rudenim sendiri dikatakan sudah berusaha memberi informasi selengkapnya, tapi mereka juga tidak bisa mengintervensi kedatangan perwakilan UNHCR ke Surabaya. Pihak Rudenim hanya bertugas menampung mereka secara sementara dan memastikan mereka mendapat fasilitas yang layak.

Keberadaan imigran gelap yang melintas batas menjadi marak di Indonesia, terutama di Jawa Timur sejak tahun 2011. Beberapa insiden kemanusiaan juga terjadi tatkala beberapa kapal yang membawa para imigran gelap tersebut tenggelam dan terdampar di perairan Indonesia. Kejadian di perairan Prigi, Trenggalek pada Desember 2011 dan di wilayah Gedangan, Malang pada April 2012 membuktikan wilayah Jawa Timur menjadi salah satu jalur lalu lintas bagi para imigran gelap ini.

Reporter: Santo