PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Pakar Theologi Perlu Ikut Memutuskan Pilihan Teknologi

Pada hari ini kita merasakan sentuhan kasih Tuhan, kepala Gereja, karena kasih setia-Nya yang tidak berkesudahan itulah kita dimungkinkan untuk berhimpun dari berbagai daerah, asal-usul, pekerjaan dan latar belakang lainnya yang berbeda.

Tema Sidang MA-GKJW ke-78 tahun 1991 yang baru lalu: Roh Kudus Datanglah, Baharuilah Ciptaan-Mu, merupakan suatu kerinduan orang-orang percaya akan datangnya kekuatan baru yang memampukannya melaksanakan tugas pengutusannya di dunia.

Tema ini mengingatkan Gereja kembali akan pemenuhan janji Kristus ketika Ia bersabda sebelum terangkat naik ke sorga: “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan Samaria sampai ke ujung bumi. Dengan sabda ini maka Roh Kudus menjadi sentral dalam kehidupan Gereja dan segenap warganya, karena Roh Kuduslah yang memberi kuasa, dan bukan yang menerimanya.

Kuasa Roh Kudus ini patut kita pahami secara terus-menerus mengingat selalu ada kecenderungan manusia untuk berspekulasi tentang masa depan dan sering pula tergoda untuk merestorasi masa silam. Ketidaksabaran para murid Tuhan Yesus pada waktu itu melahirkan kecenderungan di atas. Kita pun tidak luput dari kecenderungan itu.

Pekabaran Injil di Kracil, Ngoro oleh Coolen atau Emde di Surabaya hingga berdirinya GKJW 60 tahun silam, tidak bisa dilepaskan dari kuasa Roh Kudus yang telah datang itu dan yang membaharui Ciptaan-Nya, khususnya di Jawa Timur. Seluruh gerak pelayanan dan kesaksian gereja, segenap semangat dan kemampuan dalam melaksanakan misi di dunia adalah pekerjaan Roh Kudus. Tidak ada yang lepas dari karya Roh Kudus.

“Roh Kudus datanglah, baharuilah ciptaanMu”. Ini merupakan doa setiap orang percaya untuk dimampukan memahami tugas panggilan dan tugas pengutusanNya secara benar yang mengandung dimensi pengutusan secara horisontal: dimensi kosmik dan kultural, etnologis, ruang dan waktu, serta dimensi geografis. (Mark. 16:15; Mat. 28:19-20; Kis. 1:8).

Dimensi inilah kemudian yang memberi arahan, strategi, dan sasaran serta partisipasi penuh Gereja (juga GKJW) untuk ikut serta meletakkan landasan etis moral bagi pembangunan nasional secara bertanggung jawab, tidak saja sendiri-sendiri tetapi juga bersama-sama agama dan kepercayaan lain demi tercapainya cita-cita nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Dengan demikian gereja ditantang untuk menemukan visi eklesiologis yang relevan dan kontekstual untuk menjawab perkembangan masyarakat modern. Keterbukaan dalam tubuh Gereja menjadi demikian penting demi beroperasinya Roh Kudus. Keterbukaan untuk keluar dari benteng keterbatasan lingkungan dan keterbukaan bagi perkembangan kebudayaan bangsa. Gereja harus membuka diri bagi proses pembaharuan pemikiran teologi, pola organisasi, pola pelayanan dan kesaksian.

GKJW selaku gereja yang diutus Tuhan ke dunia, di pulau Jawa, dalam tugas pengutusannya mempunyai tugas dan tanggungjawab yang sangat unik dan tidak mudah. Sebab,GKJW dan bersama suatu kelompok masyarakat terbesar di Indonesia yang juga penyebarannya merata di Indonesia.Pulau Jawa tidak saja padat penduduk, tetapi juga merupakan jantung pertumbuhan ekonomi, modernisasi dan industrialisasi yang tidak jarang melunturkan nilai-nilai moral, etik dan spiritual keagamaan.

Pergumulan rangkap Gereja semakin kompleks dan tidak mudah, apalagi kalau dilihat dari tugas kenabiannya, gereja harus berbicara dengan disiplin ilmu lainnya, agar misalnya pilihan teknologi tidak diputuskan oleh para pakar bidang itu saja, tetapi mengikutsertakan para pakar budaya dan teologi mengingat dampaknya sangat erat terkait dengan masalah moral, Etik dan spiritual yang pada hakekatnya bersumber dari ajaran agama.

Gereja dipertemukan dengan kebutuhan untuk mencari makna dari setiap perubahan secara bertanggung jawab, melaksanakan fungsi prophenik dan kritik secara positif, kreatif dan realistis untuk membrikan kesaksian dan pelayanannya atas kemanusiaan, kemajuan dan sejarah masa depan. Inilah aspek pembaharuan dan pembaharuan ini hanya akan terjadi jika Roh Kudus bekerja, Roh Kudus yang memberi kuasa dan kekuatan bagi Gereja untuk secara terus-menerus menguji cara dan bentuk pelaksanaan tugas panggilan yang tepat dan sebaik-baiknya.

GKJW merupakan salah satu Gereja pendiri DGI/PGI tahun 1950 dan merupakan salah satu gereja anggota PGI dari 62 gereja anggotanya, secara terus-menerus bersama-sama gereja-gereja anggota lainnya secara konsisten dan konsekuen melaksanakan segala keputusan bersama di lingkungan PGI, khususnya pelaksanaan Lima Dasar Keesaan Gereja (LDKG), yang pada gilirannya demi terwujudnya keesaan gereja di Indonesia.

Kasih dan anugerah Tuhan kita Yesus Kristus kiranya beserta kita senantiasa. Amin.

Penulis:             Dr. J. Garang (Ketua Badan Litbang PGI)

Sumber:             Majalah DUTA Nomor 7 & 8; Tahun XIX; Juli-Agustus 1991