PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Dari Doa Lintas Agama Sampai Drama Kolosal Digelar untuk Satu Abad Kebangkitan Nasional

harkitnas

Surabaya – Selasa (20/05) malam, Tugu Pahlawan menjadi saksi peringatan satu abad Kebangkitan Nasional di Surabaya. Bahkan 10.000 warga Surabaya dan sekitarnya terlihat tumpleg blek di halaman monumen tugu yang terletak di Jalan Pahlawan ini.

Meski sepi pejabat, baik dari tingkat kotamadya maupun tingkat provinsi, namun pagelaran bertajuk “Kidung Bangsaku” ini berjalan dengan sukses. Bahkan pagelaran teater musikal kolosal “Soerabaja 45-Merdeka atoe Mati”, “Sumpah Palapa Gajahmada” dan tari bedaya “Jaya Nagari” berhasil menarik perhatian dari masyarakat yang hadir.

Tak hanya itu, aneka kesenian dan budaya dari lintas agama pun disuguhkan. Tak lupa, doa dari lintas agama untuk keselamatan bangsa dan negara dipanjatkan oleh masing-masing tokoh lintas agama.

Uniknya, diantara para undangan, terdapat sejumlah tamu dari lima negara, Australia, Amerika, Hawaii, Singapura, dan Jepang. Mereka adalah Matt Foster, Bill, dr. Sharon Ayabee, dr. Bob, Lisa, Wendy, dan Mamoc. Sesekali mereka juga terlihat mendekati panggung untuk mengabadikan momen dengan kamera digital mereka. Bahkan, mereka juga tak segan-segan memberikan standing applaus usai sesi demi sesi pertunjukan usai digelar.

Menurut DR. Drs. Ec. M. Sudhi Dharma, Ketua Panitia, ada pun visi yang hendak dicapai dalam pagelaran teater musikal “Kidung Bangsaku, salah satunya untuk menumbuhkan kembali sikap nasionalisme dan bangkitnya jiwa patriotik masyarakat yang mulai luntur.

“Sekaligus, untuk mengembalikan karakter integritas bangsa, disertai rasa solidaritas dan toleransi nasional yang berwawasan kebangsaan,” kata Sudhi Dharma yang juga Ketua BAMAG (Badan Musyawarah Antar Gereja) Kota Surabaya.

Yang menarik, puluhan ribu hadirin yang terlihat memadati halaman Tugu Pahlawan diwajibkan untuk memakai ikat kepala merah putih yang telah disediakan panitia.

“Kami berharap, agar masyarakat bisa kembali rasa nasionalis serta jiwa patriotik saat menghadiri acara ini. Dan Indonesia bisa segara bangkit dari keterpurukan, ditengah kondisi perekonomian masyarakat yang semakin terguncang,” kata DR. Hana Amalia Vandayani Ananda, wakil ketua panitia yang juga Ketua Yayasan Pondok Kasih yang menjadi salah satu panitia penyelenggara, selain Kinarya Resi Rajani, Bamag Surabaya, Forum Membangun Persaudaraan Indonesia (FMPI) dan didukung pelbagai organisasi keagamaan dan elemen masyarakat.

Usai pagelaran di Tugu Pahlawan, serangkaian acara untuk memperingati satu abad Kebangkitan Nasional masih terus digelar oleh panitia. Mulai dari bakti sosial di Probolinggo pada 28 Mei, dialog Kebangsaan Nasional di Situbondo pada 29 Mei sampai peringatan hari lahirnya Pancasila pada 1 Juni mendatang di Taman Bungkul.

“Pokoknya, setiap bulan dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2008, akan diselenggarakan seminar kebangsaan yang akan ditujukan untuk kalangan mahasiswa atau Perguruan Tinggi yang ada di Surabaya. Diawali dengan pemutaran beberapa film dokudrama kebangsaan dari Garin Nugroho,” jelas Daniel Lukas Rorong, Sie Publikasi dan promosi acara.

(Rorong)