PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Pilih Titanic atau Kapal Nuh?

Hidup ini adalah persoalan memilih. Begitu pula untuk urusan bagaimana menyikapi kesulitan hidup serta bagaimana kebijakan ekonomi yang kita pilih memberikan jawabannya.

Sebuah artikel menarik saya baca di sebuah harian ekonomi, membandingkan antara Titanic dan Kapal Nuh. Titanic merupakan sebuah kapal pesiar megah, yang dibangun dan berlayar pada 1912 antara Inggris dan Amerika. Dalam film layar lebar adaptasi kisah nyata, yang telah berulang-ulang diputar di televisi itu, tampak nyata betapa kesombongan manusia mengawali grand launching kapal nan mewah itu. “Tidak ada seorang pun manusia, dan bahkan Tuhan pun, sanggup menenggelamkan kapal ini,” begitu ucapan angkuh yang terlontar saat peresmian Titanic.

Alkisah, kehidupan di kapal Titanic tak ada bedanya antara siang dan malam. Siang hari tampak laksana malam, karena gemerlap kasino, meja prasmanan hingga ruang disko terus menyajikan layanan tanpa henti. Begitu pula ketika gelap tiba, aktivitas hura-hura terus berlangsung, karena memang kehidupan di dalam kapal tidak mengenal perbedaan masa kerja antara matahari dan bulan.

Namun, kisah selanjutnya telah sama kita ketahui. Hanya karena terbentur gunungan es kecil, kapal sombong itu tenggelam. Kisahnya menyisakan tragedi hebat, dengan ribuan korban jiwa, dan kerugian harta tak ternilai pada saat itu.

Akan halnya Kapal Nuh, berangkat dari latar belakang berbeda. Kejadian 6:9-22 menulis, visi agung dari Sang Pencipta memerintahkan Nuh, seorang yang benar dan tidak bercela pada zaman itu, membuat sebuah bahtera demi menghindari pemusnahan bumi akibat banjir bandang. Semua instruksi disampaikan detail, dan diakhiri dengan kalimat, “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya, demikianlah dilakukannya.”

Yang terjadi, bahtera ini bukan hanya membentur batu karang, tapi juga menghadapi hujan deras yang menghabisi bumi dalam waktu 40 hari 40 malam, dengan total waktu air berkuasa selama 150 hari. Alih-alih bocor dan tenggelam, bahtera Nuh ini berakhir dengan nangkring di Pegunungan Ararat.

Sebenarnya, yang membedakan antara Titanic dan Bahtera Nuh hanya sederhana: terletak pada dasarnya, kokoh atau tidak. Gusti Yesus memaparkan, ada dua dasar yang memungkinkan seseorang menjalani hidupnya, dasar yang kokoh atau dasar yang bodoh (Matius 7:24-27). Dalam konteks dua kapal tadi, jelaslah bahwa yang satu dibuat berdasarkan ambisi kesombongan, dan yang kedua atas dasar Kehendak Allah. Dalam hal ini meminjam nyata, bahwa kemasan bukanlah segalanya. Karena di balik kemasan yang dahsyat, bisa saja rapuh dalamnya. Maka, mengadaptasi sebuah iklan, “Yang Penting Isinya, Bung!”

Perbandingan nyata saya temui dalam perjalanan ke Australia dan Brunei awal tahun lalu. Sebagai sebuah negara yang tergolong maju dan sehat secara fundamental ekonomi, Aussie akhir-akhir ini tengah bersedih karena resesi tengah menggerogoti perekonomian negeri kanguru. Bahkan, sebagai langkah solidaritas sosial, Perdana Menteri Kevin Rudd sampai memerintahkan pemotongan gaji para politisi di sana.

Namun toh, sekrisis-krisisnya Australia, rakyat kecil tidak terlalu mengalami kesusahan. Pemerintah tetap konsisten pada kebijakannya untuk “menyantuni” mereka yang pengangguran dan dianggap tidak berdaya secara ekonomi, seperti para janda, single parent, kelompok difabel (penyandang cacat) dan lain- lain. Lewat sebuah lembaga bernama Centrelink, yang dananya dihimpun dari pajak, mereka yang memenuhi persyaratan rutin mendapat bantuan keuangan, tak terkecuali saat krisis ekonomi menerpa seperti saat ini. “Besar santunan untuk para penganggur dan kaum papa lain bisa sekitar 300 Dollar Australia (sekitar Rp 2,5 juta) setiap minggunya,” kata Sary Latief, seorang pemegang KTP Permanent Resident yang saya jumpai di Queensland. Permanent Resident merupakan status kewarganegaraan yang tingkatnya hanya satu level di bawah Citizenship alias Warga Negara Australia. Semua hak warga negara mereka berhak disandang, kecuali hak memilih dan dipilih dalam Pemilihan Umum.

Pikiran pun terkenang pada pernyataan seorang rekan sekerja dari Australia yang mengagumi suasana Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta. Sembari menggeleng-gelengkan kepala, Stuart, begitu nama bule itu, melontarkan rasa tidak percayanya atas begitu banyaknya mobil mewah berseliweran di pelabuhan udara terbesar di Indonesia itu. “Jojo, kamu dapat menemui lebih banyak mobil tua di Australia daripada di Indonesia,” begitu ungkapnya. Mengundang bangga? Atau malah prihatin.

Fenomena kesederhanaan juga terlukis ketika mampir di Brunei. Negara Kesultanan yang jumlah penduduknya tidak lebih banyak dari penduduk Kota Batu ini memang hanya menduduki peringkat ke-170 dalam urusan besaran wilayah negara di dunia. Namun, dalam urusan pendapatan per kapita, angkanya mencapai 24.826 Dollar AS, atau berada di urutan ke-26 dari sekitar 200 negara di muka bumi ini. “Di sini, orang punya satu mobil masih dianggap miskin,” kata Tjoky Siregar, Sekretaris Pertama KBRI di Bandar Seri Begawan.

Toh meski begitu kayanya, sampai seharian berputar di Brunei, saya tidak bisa menemukan sebiji pun mall sebesar Tunjungan Plaza. Beda ketika balik ke Jakarta. Sepuluh tahun paska masa krisis ekonomi 1998, justru begitu banyak mall dan pusat perbelanjaan baru menyesaki ibukota. Sebutlah Senayan City, Sudirman Place, Mall of Indonesia, La Piazza, Grand Indonesia, dan yang terbaru Pacific Place. Ini belum terhitung menjamurnya Trade Centre, Pusat Grosir, serta serbuan pasar modern sekelas Carefour, Giant, dan Hypermart yang menenggelamkan pasar tradisional. Fenomena serupa terjadi di Surabaya dengan munculnya Pakuwon Supermall, City of Tomorrow, Royal Plaza, dan lain-lain. Pada akhirnya semua akan tahu, betapa rapuhnya kondisi kapal dengan banyak penumpang yang dari luar seperti berlabur kemewahan ini.

Analogi ini berlaku pula pada kehidupan pribadi. Ada orang yang dari luar begitu kelihatan makmur, namun ternyata fondasi keuangannya dibangun dari hutang. Namun, ada juga yang selalu tampak sederhana, padahal sesungguhnya dia memiliki dasar ekonomi yang kuat, dan bukan hidup berdasarkan pinjaman.

Jadi, Anda pilih mana? Kemasan atau Isi? Titanic atau Kapal Nuh?

Penulis: Agustinus “Jojo” Raharjo, pernah tercatat sebagai warga GKJW Ngagel dan Babatan, Surabaya. Kini tinggal di Jakarta