PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Lampu Kuning dari Jawa Barat

Pilkada Jawa Barat telah berlangsung 13 April lalu. Ada beberapa hal yang menarik dalam pemilihan gubernur kali ini, sehingga media massa perlu mengeksposenya dalam porsi besar.

Pertama, Jawa Barat merupakan provinsi dengan penduduk yang mengikuti pilkada terbesar di Indonesia. Dari sekitar 43 juta penduduk, sekitar 27 juta di antaranya memiliki hak pilih.

Kedua, ini adalah pilkada langsung pertama di provinsi itu.

Ketiga, Presiden Yudhoyono merupakan penduduk Kabupaten Bogor, sehingga ia termasuk pemilih dalam pilkada ini.

Keempat, tentu saja ada beberapa nama beken yang masuk sebagai kandidat penguasa Gedung Sate dalam pilkada ini. Dalam liputan langsungnya, sebuah media televisi bahkan menyebut bahwa “hasil pilkada Jawa Barat dapat dianggap sebagai barometer Pemilu 2009”.

Hasilnya, sungguh di luar dugaan mayoritas orang. Pasangan Ahmad Heryawan- Dede Yusuf (Hade) yang semula dianggap sebagai “kuda hitam” memimpin perolehan suara. Bahkan, jagoan PKS-PAN ini perolehan suaranya mendekati angka 40 persen! Padahal, baik Heryawan, yang Wakil Ketua DPRD DKI, dan Dede Yusuf, anggota DPR RI, bukan penduduk Jabar. Heryawan memang kelahiran Sukabumi dan Dede memang anggota DPR dari Dapil Jabar X, namun karena tinggal di Jakarta, mereka pun tak punya hak untuk mencoblos.

Adapun dua pasang kandidat lainnya terseok di belakang. Pasangan “Aman” alias Agum Gumelar dan Nukman Abdul Hakim., purnawirawan militer nan kenyang pengalaman birokratis berpasangan dengan wakil gubernur incumbent, diusung PDIP dan PPP, harus berpuas sebagai runner-up. Gubernur sebelumnya, Danny Setiawan, yang kini mengusung jargon Da’i bersama pasangan barunya, mantan Pangdam III Siliwangi, Iwan R Sulanjana, berada di posisi juru kunci.

Benarkah hasil pilkada Jabar menjadi acuan untuk Pemilu DPR dan Pilpres 2009? Terlalu dini memang untuk menyimpulkannya. Namun, kemenangan PKS patut menjadi sinyal tersendiri, terutama bagi kelompok nasionalis. PKS datang merebut kursi pimpinan Jabar bukan tanpa bekal. Sebelumnya, mereka menang di beberapa pilkada kabupaten dan kota, seperti Kabupaten Bekasi dan Kota Depok yang kontroversial itu.

PKS sebelumnya memang tersandung di Pilgub Banten dan DKI, namun kekalahan itu benar-benar membuat mereka belajar. Bahkan, kandasnya pasangan Adang-Dani di Pilgub DKI juga menyisakan kejutan, tatkala suara mereka pun melewati batas 40 persen perolehan suara pemilih. Sebuah angka fantastis, untuk kekuatan kandidat yang didukung satu partai melawan Fauzi Bowo-Prijanto yang dibela 19 partai.

Partai ini memang tidak banyak bicara. Namun konsolidasinya, jangan ditanya. Ada teman usil bilang, cara perekrutan dan pengorganisiran massanya mirip dengan pola-pola PKI tempo dulu. Ada pula yang menyamakan penggalangan anggota partai yang dulu bernama Partai Keadilan ini laksana Multi Level Marketing. Tidak terlalu salah, bila mengingat saat Pilkada DKI lalu mereka membentuk simpul komunikasi massa yang amat rapi. Dan, para kader senior tak segan untuk berkampanye datang dari rumah ke rumah, menawarkan pasangan yang jadi “jualan” mereka.

Untuk urusan menarik massa mengambang, jangan anggap remeh strategi PKS. Ketiga pasangan kandidat di Jawa Barat sama-sama menggandeng biro iklan ternama untuk proses produksi iklan di media, terutama televisi. Tapi, tengoklah kreativitas PKS-PAN. Mereka menonjolkan Hade, keduanya baru berumur 41 tahun, sebagai “pasangan muda”. Slogan “saatnya yang muda memimpin” mereka usung, dengan menyejajarkan profil Hade layaknya John F. Kennedy, Bung Karno, Tony Blair, dan Benazir Bhutto, yang sama-sama meraih puncak kekuasaan di usia 40-an tahun.

Satu catatan penting perlu diingat: Hade menang karena lawannya ada dua pasang. Di Jakarta, kekuatan Fauzi Bowo bekerja keras agar yang maju dalam pilgub tak lebih dari dua pasang kandidat, sehingga yang bertarung head to head, satu lawan satu. Dengan adanya tiga pasangan di Jabar, maka ada kemungkinan suara kelompok nasionalis pun terpecah.

Apapun, selamat untuk PKS-PAN, dan selamat berpikir keras untuk partai-partai nasionalis. Jangan lupa, medan pertarungan pilkada Sumut, Jateng, dan Jatim siap menanti.

Penulis: Agustinus “Jojo” Raharjo