PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Tiga Daerah Milik Siapa?

Pemilihan umum memang masih berlangsung tahun depan, dimulai 5 April 2009 sebagai hari pemungutan suara untuk anggota DPR, DPRD, dan DPD. Namun, gelegar politik di beberapa daerah tahun ini sudah terasa amat panas, terutama di wilayah yang menggelar pemilihan langsung kepala daerah.

Pulau Jawa, yang terdiri dari enam provinsi, tahun ini menjadi semarak dengan perhelatan pemilihan gubernur di tiga provinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Maklum saja, dua provinsi sebelumnya, DKI dan Banten, telah menggelar pilkada pada 2008 lalu. Sementara Daerah Istimewa Yogyakarta, sepanjang Undang Undang Daerah Istimewanya belum disahkan para wakil rakyat di Senayan, belum akan ada perubahan dari tradisi mereka menjadikan Sultan Hamengkubuwono sebagai raja sekaligus gubernur.

Kembali ke tiga provinsi yang akan menggeber pesta demokrasinya tahun ini. Jawa Barat bakal memulai suksesi gubernur pada Minggu, 13 April mendatang. Hanya tiga pasang kandidat yang akan bertarung memperebutkan kursi penguasa di provinsi dengan penduduk terbanyak se-Indonesia ini. Bagaimana peta kekuatan mereka?

Danny Setiawan dan Iwan R Sulanjana, biasa menyingkat diri Da’i, diboyong oleh Partai Golkar dan Demokrat yang menonjolkan sisi incumbent sang gubernur sebagai “juara bertahan”. Lihat saja iklan-iklannya yang bergentayangan di layar kaca. Danny, yang mengawali karir birokrasinya sebagai Camat Cimarga di Kabupaten Lebak pada 1968 meminta rakyat Jabar memilih berdasarkan “hati nurani”.

Iwan R Sulanjana memang sudah tidak asing lagi bagi warga Jabar. Perwira tinggi TNI AD ini selain pernah menjabat Pangdam III Siliwangi, juga cucu mantan Gubernur Jabar Ipik Gandamana. Jabatan terakhir Iwan R Sulanjana di TNI adalah Asisten Operasi KSAD. Kebetulan, saat penetapan dirinya menjadi cawagub Jabar oleh Partai Golkar, Iwan R Sulanjana resmi memasuki pensiun. Beberapa bulan lalu Iwan R Sulanjana juga pernah dicalonkan menjadi Dirut PT Pindad, namun dia tidak bersedia menerima jabatan tersebut.

Kandidat nomer dua adalah pasangan Agum Gumelar dan Nukman Abdul Hakim. Yang satu purnawirawan militer nan kenyang pengalaman birokratis, sedangkan pendampingnya merupakan wakil gubernur incumbent dan orang nomer satu di Partai Persatuan Pembangunan Jawa Barat, sebuah provinsi yang juga dikenal sebagai “provinsi hijau” terutama di kawasan bagian selatannya.

Selain pernah menjabat Menteri Perhubungan, “Menteri Utama” (di menit-menit akhir era pemerintahan Gus Dur saat SBY menolak jabatan itu), dan mantan cawapres pada Pemilu 2004, Agum, yang merupakan gacoan PDI-P, juga dikenal sebagai mantan Ketua Umum PSSI dan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Tak salah, dalam kampanyenya di Bandung, mertua pebulutangkis Taufik Hidayat ini lantang berteriak, “Selama ini Persib sulit sekali kembali menjadi juara Liga Indonesia. Kalau saya gubernurnya, saya akan angkat prestasi Persib sebagai tim kebanggaan Jawa Barat.”

Kandidat nomer tiga, pasangan anggota DPRD DKI Ahmad Heryawan asal PKS dengan politisi selebriti Yusuf Macan Effendi alias Dede Yusuf, legislator asal PAN di Senayan. Dengan akronim “Hade”, pasangan ini jangan sekadar dianggap kuda hitam. Maklum, PKS tampil dengan kepercayaan diri memenangi beberapa pilkada tingkat bupati dan walikota di Jawa Barat, seperti di Depok, Cimahi dan Bekasi. Meski harus diakui, Heryawan nyaris tak dikenal orang Jabar, tenggelam di balik popularitas cawagubnya.

Siapa yang akan menjadi jawara dan memimpin orang Sunda 2008-2013? Sulit menebaknya. Tapi, saya memegang Danny kembali akan menjadi pemenang tipis. Meminjam guyonan pelawak Kelik, di Indonesia ini para politisi umumnya berasal dalam dua kategori, yakni calon tetap, atau “tetap calonnya”. Sebagai orang yang “tetap calonnya”, Danny akan memanfaatkan keunggulan popularitas dan mesin politiknya dari kalangan birokrasi. Dari sisi moral dan prestasi, toh ia tak bisa dibilang gagal-gagal amat.

Bagaimana dengan Jawa Tengah? Pilkadanya bakal berlangsung 22 Juni nanti. Jadi, konfigurasi calonnya pun masih bisa berubah-ubah. Namun, sejauh ini sudah ada yang berani mendeklarasikan diri, seperti PDI-P yang memasang mantan Pangkostrad Bibit Waluyo berduet dengan Bupati Kebumen Rustriningsih. Adapun Golkar, menjagokan mantan wartawan yang kini duduk manis di kursi anggota dewan Senayan, Bambang Sadono, bersama Ketua PWNU Provinsi itu, Muhammad Adnan.

Masih misterius, akankah Gubernur Ali Mufidz, wagub yang naik pangkat sebagai gubernur setelah Mardiyanto diangkat sebagai mendagri, mendapatkan pintu untuk maju? Di pihak Partai Demokrat, Walikota Semarang Sukawi Sutarip seperti tak akan diutak-utik lagi menjadi “kuda” dari partai itu. Meski toh di arena pilkada sebenarnya mungkin penampilannya tak lebih sebagai “penggembira” saja.

Siapa yang akan menjadi raja di Jawa Tengah? Semua punya kelebihan dan kekurangan. PDI-P diuntungkan dengan citra positif bupati perempuannya yang sukses memimpin Kebumen dalam dua kali masa jabatan. Namun, meski kelahiran Klaten, bukan berarti Bibit Waluyo otomatis mengonversikan kelebihan cawagubnya itu menjadi pemenang. Bibit yang pernah menjabat Pangdam Diponegoro harus bekerja keras meyakinkan para pemilih, bahwa ia adalah “militer yang smart” dan bukan asal “tukang pukul”, seperti yang sukses dilakukkan kala menggebuk Gerakan Aceh Merdeka saat dirinya masih menjabat Pangkostrad. Satu kalimat kunci yang harus dicatat dalam pilkada Jateng ini adalah, faktor mesin politik Golkar merupakan sebuah keunggulan yang tak bisa diremehkan.

Bagaimana dengan Jawa Timur? Jangan salah, meski pilkadanya masih berlangsung 23 Juli nanti, namun gesekan-gesekannya sudah terasa sejak tahun lalu! Partai Golkar resmi mengusung Wagub Sunaryo dengan Ketua PWNU Ali Maschan Musa, PDI-P memainkan anggota DPR Sucipto dengan mantan Ketua DPD Partai Golkar Ridwan Hisjam, koalisi partai membawa nama Sekretaris Daerah Sukarwo dan mantan Menteri Pemberdayaan Daerah Tertinggal Syaifullah Yusuf, sementara PKB mendorong Bupati Mojokerto Achmady maju bertarung memperebutkan kursi Jatim 1.

Sementara itu, tampil juga pasangan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan Kasdam V/Brawijaya Brigjen TNI Mudjiono setelah mengantongi dukungan dari 12 partai politik yang tergabung dalam Koalisi Jatim Bangkit, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK), Partai Merdeka, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI), Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD), Partai Sarikat Indonesia (PSI), dan Partai Pelopor (PP), PNI Marhaen dan Partai Damai Sejahtera (PDS).

Siapa bakal menjadi penguasa Grahadi? Ini teka-teki paling sulit, dibanding menebak pemenang pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah. Apalagi, karakter masyarakat Jawa Timur, terbagi dalam beberapa kategorisasi masyarakat, yakni kelompok intelektual, abangan, dan santri. Belum lagi bila melihat suku, darah Madura bakal menjadi determinan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Saya tak cukup gegabah menentukan pememang pilkada Jatim. Tapi, dua kata kunci penting ada di sini: kejelian tim sukes dan komunikasi dengan pemilih. Sangat diharapkan, tim sukses cagub Jatim akan membawa isu yang “down to earth” dan tidak mengawang-awang. Salah satu praktisnya, bagaimana para pemimpin terpilh ini punya formula mendekatkan diri dengan rakyat Ingat, salah strategi sedikit, bisa salah langkah semuanya. Karena itu, terus terang, saya tidak menjagokan calon incumbent akan melenggang menuju tampuk Grahadi.

Penulis: Agustinus “Jojo” Raharjo