PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Welcome Back Bu Indah..

Indah Kurnia is back. Ungkapan itu tepat untuk menggambarkan kembalinya Indah Kurnia menjadi manajer tim Persebaya Surabaya pada musim kompetisi 2008/2009.

Top Skor, harian olahraga satu-satunya di Indonesia, memasang profil Indah Kurnia dalam rubrik “Personal” di koran edisi Senin, 17 Maret ini. Judulnya pun cukup ‘provokatif’: Indah Spesialis Main di Bawah. Ini mengingatkan perjalanan Indah yang didapuk menjadi Manajer Persebaya dua tahun lalu, saat “Bajul Ijo” menjalani masa susah di Divisi I akibat hukuman PSSI. Toh, tangan dingin Kepala Cabang Bank BCA Tunjungan Surabaya itu sukses kembali mengangkat bond kebanggaan 4 juta warga Kota Pahlawan kembali ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Stadion Brawijaya, Kediri, menjadi saksi saat Persis Solo tumbang dan sundulan Nova Arianto memastikan Persebaya menjadi yang terbaik di Divisi I. Sayang, saat Green Force mentas kembali ke Divisi Utama, Indah mesti meninggalkan kursi panas itu.

“Saya sepertimya ditakdirkan untuk selalu main di bawah. Saya punya pengalaman untuk itu. Saya akan berusaha keras mengantarkan Persebaya kembali disegani di pentas sepakbola nasional,” kata Indah, sebagaimana dikutip Top Skor. Perempuan kelahiran 11 Agustus, 47 tahun lalu ini menegaskan, target awalnya adalah membentuk tim solid sesuai deadline Ketua Umum Persebaya Saleh Ismail Mukadar.

Isteri Jerry Raymond ini sebenarnya punya modal besar untuk itu: kedekatan dan keakraban dengan pemain dan akses-akses lainnya. Harus diakui, pendekatan perempuan jelas berbeda dengan laki-laki. Empati, itulah kuncinya. Kelebihan ini ditampilkan Indah Kurnia saat menyatakan keprihatinannya atas pemecatan Mursyid Effendy, pemain paling setia di Persebaya. Meski tak lagi menjabat manajer, Indah sedih mengapa ikon “Bajul Ijo” asal Benowo itu bisa dengan mudah digusur.

Kalau toh ada kelemahan, bagaimana perempuan berkarakter Leo seperti Indah bisa menyimpan sisi bengis yang ada pada personifikasi orang dengan rasi kelahiran sepertinya. Mestinya, yang dimaksimalkan adalah sisi positif bintang itu: tegas, berwibawa, berkemauan keras, dan sedikit egois untuk memastikan semua impian terwujud.

Tidak mudah mencari referensi wanita yang gila bola, dan rela mengeluarkan uangnya tanpa banyak perhitungan seperti Indah. Bahkan di dunia internasional, nama-nama perempuan di bidang bisnis olahraga belum ada seujung kuku geliat para pria.

Kalaupun ada, akhirnya yang muncul ya Rita Subowo, pengusaha yang aktivis voli, dan kini menjadi Ketua Umum KONI serta Komite Olimpiade Indonesia. Kalau mau ditarik ke belakang, muncullah nama Diza Rasyid Ali, perempuan yang dijuluki “Makassar Soccers’ Mother” ini pernah memanajeri dua klub besar: Persija Jakarta dan PSM Makassar. Semasa di tim oranye, Diza mencetuskan berdirinya wadah supporter “The Jakmania”, yang kemudian dikenal mampu meredam perkelahian antar kampung serta menyatukan warga ibukota nan amat plural itu. Diza kini dikenal sebagai Direktur MFS alias Makassar Football School 2000 sekaligus memimpin Pemuda Pancasila di kampung halamannya sana.

Tak ubah dengan Diza, Indah juga terjun di belantara politik. Sebagai Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim bidang Informasi dan Komunikasi, hari-hari tidak mudah akan dijalani Indah dalam dua perahu itu. Apalagi kini tensi politik Jawa Timur dipastikan meningkat menjelang pemilihan gubernur serta persiapan Pemilihan Umum tahun depan. Ini tentu belum terhitung perahu bisnis perempuan yang juga menjabat Ketua Surabaya Entertainers Club itu.

Yang pasti, para pencinta sejati Persebaya tidak akan rela dinomerduakan. Tuntutan mereka pasti: Kembalikan Persebaya ke era masa jaya, ke era M. Basri, era Budi Juhannis, Putu Yasa, Mustaqim dan Muharrom Rusdiana, ke era Yusuf Ekodono, Anang Ma’ruf, Aji Santoso dan Reinald Pietersz, serta ke era saat gelar juara terakhir kali dipersembahkan Mursyid Effendy, Hendro Kartiko, Khairil Anwar, Kurniawan, dan Uston Nawawi empat tahun silam.

Selamat bekerja, Bu Indah, bonek-bonek die hard butuh momonganmu…

Penulis: Agustinus “Jojo” Raharjo