PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Iri Pada Brunei

Baru-baru ini saya terdampar di Bandara Internasional Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Jemari saya mengucek mata, mencoba meyakinkan raga bahwa perjalanan ini bukan bunga tidur. Sebuah pelabuhan udara nan sunyi, dengan baliho besar mengucap selamat datang, “Brunei, The Greenheart of Borneo, Kingdom of Unexpected Treasures.” Namun, meski suasana lengang menyergap di pintu masuk negeri berpenduduk 383 ribu jiwa itu, tak sedikit ada rasa was-was di sana. Sampai setengah jam kemudian, Mahadi, pengemudi mobil jemputan hotel datang memberi salam.

“Tenang saja, di sini nyaris tak ada kriminalitas,” kata pemuda Melayu yang baru kelar dari sekolah menengah itu. Melintas jalan utama menuju kawasan Gadong, Masjid Jami menyapa di kiri jalan. “Tak lengkap rasanya kalau turis tak mampir ke situ,” tunjuknya. Menurut Mahadi, selain berfoto di depan masjid, hukum wajib lain bagi wisatawan adalah singgah ke halaman Istana Nurul Iman, tempat Sultan dan Yang Dipertuan Negara Brunei Darussalam, Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzadin Waddaulah, berkuasa sejak masih berusia 21 tahun, 5 Oktober 1967 silam.

Gonjang-gonjang harga minyak dunia membuat Pemerintah Indonesia kalang- kabut menyiapkan berbagai skema. Mulai dari pembatasan pembelian Bahan Bakar Minyak sampai mempertimbangkan skenario terburuk: mengurangi subsidi BBM dari APBN. Namun, segala keresahan itu tidak terjadi di Brunei Darussalam, sebuah negara yang sebenarnya juga terletak di bumi yang sama, dan bahkan di pulau yang sama dengan salah satu wilayah Indonesia.

Meski tidak berbatasan wilayah secara langsung, Brunei merupakan salah satu negara tetangga terdekat yang memiliki hubungan emosional amat erat dengan Indonesia. Namun, pesona negara di ujung Pulau Kalimantan dengan luas 5.765 km² kerap terlupakan untuk ditengok, apalagi bila dibandingkan dengan negara- negara Asia Tenggara lainnya. Padahal, jumlah Warga Negara Indonesia di Brunei tidak bisa dibilang sedikit. “Data resminya ada 43.747 WNI terdaftar di sini,” kata Sekretaris Pertama KBRI Brunei Tjoki Aprianda Siregar. Siang itu, kami menyantap nasi lemak dan Soto Brunei berteman teh tarik, sembari menikmati pemandangan Kampung Ayer, salah satu primadona wisata di Bandar Seri Begawan.

“Tak ada demokrasi di sini. Tapi rakyat tak nuntut macam-macam, lha wong mereka sejahtera,” kata seorang staf KBRI yang menemani saya menikmati nasi lemak berteman teh tarik di pinggir Kampung Ayer. Parlemen Brunei bernama Legislative Council alias Legco, yang beranggotakan 29 orang dan dipilih langsung oleh Sultan Brunei. Negara ini menduduki peringkat ke-170 dalam urusan besaran wilayah di dunia, namun dalam urusan pendapatan per kapita amat menakjubkan, mencapai 24.826 Dolar AS, atau berada di urutan ke-26 dari lebih 200 negara di muka bumi ini. “Di sini, orang punya satu mobil dianggap miskin,” seloroh Tjoky.

Pelajaran dari Brunei, negara kecil yang umurnya hampir empat puluh tahun lebih muda dari Indonesia, membuktikan pengelolaan sumber daya alam dengan manajemen yang baik membuat masyarakat benar-benar dapat menikmati manfaat kekayaan negaranya dalam pemenuhan aspek kebutuhan hidup sehari- hari.

Hassanal Bolkiah dikenal sebagai pemimpin kaya raya yang rendah hati. Setiap Jum’at, yang merupakan hari libur kerja di Brunei, Bolkiah berkeliling dari satu masjid ke masjid lainnya, menunaikan Salat sekaligus menemui warga yang rindu berjabat tangan dengannya. “Sultan Bolkiah tak suka aturan protokoler, saat Salat Jum’at pun beliau mengemudikan sendiri mobilnya,” ungkap Tjoki.

Bagi warga Indonesia, Brunei selayaknya menjadi halaman belakang kampung sendiri. Karena jumlah TKI mencapai sepersepuluh penduduk Brunei, maka di banyak tempat mudah dijumpai arek-arek Jawa Timur atau akang-akang dari Sunda. Tempat penukaran uang saling bersaing menawarkan nilai tukar rupiah termurah, sementara di sebuah pusat perbelanjaan, lantunan keping cakram Mel Shandy dan Peter Pan seperti berlomba nyanyi menembus pasar internasional.

Tak lebih 30 jam mampir di Brunei, berbagai kenangan indah terlukis. Bagaimana pemerintah menyejahterakan rakyatnya, bagaimana keramahan penduduknya, dan bagaimana hidup di negeri nan tenang tanpa kerusuhan. Sebuah kenyamanan yang sudah didapat sejak pertama kali menginjakkan kaki di bandara Bandar Seri Begawan.

Namun, muhibah singkat laksana mimpi itu buyar, saat pramugari maskapai nasional Brunei menyampaikan pengumuman pesawat segera mendarat di Cengkareng. Sekejap, kenangan indah berubah dengan kehidupan nyata di tanah air: calo tiket menawarkan tarif murah, ojek dan taksi gelap menarik-narik tangan calon penumpang, dan penerbangan domestik yang identik dengan keterlambatan jadwal. Semua kesemrawutan yang kembali saya dapat sejak pertama kali menginjakkan kaki di bandara.

Penulis: Agustinus “Jojo” Raharjo