PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

The Conductors

Kembali, saya menonton sebuah film Indonesia yang memesona dan bikin merinding. Judulnya: The Conductors, mengisahkan tiga orang pria dengan latar belakang berbeda, namun memliki profesi –atau hobi- yang sama: menjadi
dirijen.

Addie MS, siapa tak kenal salah seorang pendiri Twilite Orchestra ini? Bernama lengkap Addie Muljadi Sumaatmadja, suami penyanyi Memes kelahiran Jakarta 7 Oktober 1959 ini menunjukkan totalitasnya dalam bermusik. Andi Bachtiar Yusuf, Sutradara The Conductors, membawa kita masuk dalam kehidupan Addie MS: tentang filosofinya bermusik, tentang teori-teori menjadi dirijen, sampai bagaimana ia membeli rumah mewah berharga murah di zaman krismon. Tak lupa, kru The Conductors pun mengikuti perjalanan Twilite Orchestra saat mentas di negeri jiran.

Figur kedua yang ditampilkan yakni AG Sudibyo. Dosen di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI ini setiap tahun memiliki tugas berat: menyaring 12 ribu mahasiswa baru Universitas Indonesia menjadi sebuah paduan suara dadakan yang ditampilkan di acara penutupan penerimaan mahasiswa baru. Dengan sabar, pria berkumis lebat yang rumahnya dihiasi banyak ornamen salib ini memilih para anggota koornya dan memoles mereka menjadi sebuah tim yang hebat.

Figur ketiga, nah ini dia, Yuli Sugianto, atau lebih dikenal sebagai Yuli Sumpil, sesuai nama rumahnya di sisi utara Kota Malang. Sudah lebih sepuluh tahun ini Yuli menjadi dirijen Aremania, setiap kali tim Singo Edan bermain di Stadion Gajayana, dan sejak dua musim terakhir hijrah ke Stadion Kanjuruhan, Kepanjen.

Namun, berbeda dengan Addie MS dan Pak Dibyo, Yuli hanyalah tukang antar gallon dengan keuntungan sekitar 30 ribu rupiah per pekan. Ia tak mau bekerja yang dapat mengganggu aktivitasnya mendukung Arema. Namun, meski bukan orang gedongan, nyaris tak ada orang Malang tak mengenalnya. “He’s very famous.. extraordinary,” kata seorang pengamen yang tak sengaja bertemu The Conductors di sebuah warung makan. Tentu saja, pengamen yang selalu membawakan lagu-lagu Arema ini ngomong dalam bahasa Indonesia Malangan, namun film ini memang dilengkapi dengan teks bahasa Inggris.

“Kami memang ingin mengikutkan The Conductors dalam berbagai festival,” kata Ucup, panggilan sutradara film berdurasi 81 menit dengan biaya produksi tak sampai Rp 100 juta ini. Seusai pertunjukan di Blitz Grand Indonesia Jakarta, yang hanya ditonton 12 orang itu, kami bersama menikmati gurigta nasi goreng kambing Kebon Sirih. Sebelum membuat The Conductors, orang mengenal Ucup sebagaiarsitek di balik pembuatan trilogy film The Jak. Belakangan, laki-laki yang sudah menjelajah stadion sepakbola di Eropa ini tampil sebagai komentator sepakbola di ANTV.

Ucup mengaku, banyak orang memintanya agar memenggal adegan Aremania menghujat Persebaya di film ini. Namun, karena begitu lengkapnya adegan nyanyi dan gerakan Aremania saat meledek Bonek, maka ia pun urung melakukan sensor. So, khusus untuk para penggemar Persebaya, harap jangan sakit hati dan menambah dendam seusai menonton film yang kali pertama pentas di Jakarta Internasional Film Festival (Jiffest) 2007 itu. Kalau Anda merasa kecewa dipermainkan Arema di film ini, buatlah gerakan dan nyanyian yang lebih atraktif. Tunjukkan persaingan secara positif!

Satu hal yang membuat saya acung jempol, layaknya produk-produk Hollywood, The Conductors banyak mengobral nasionalisme. Tengok tayangan saat para supporter mengibarkan bendera merah putih besar di Stadion Gelora Bung Karno saat kejuaraan Piala Asia tahun lalu, diiringi lagu Indonesia Raya yang membuat bulu kuduk merinding. Atau ketika puluhan ribu Aremania bernyanyi “Padamu Negeri, Kami Berjanji…” menjelang pertandingan dimulai.

Mulai 25 Februari, The Conductors akan pentas di Dieng 21 Malang, untuk selanjutnya dibawa keliling ke berbagai kota lain di Indonesia dan juga negeri tetangga. Saatnya kita mendapat inspirasi dari karya anak bangsa seperti ini, dengan beberapa pesan moral terselip dalam The Conductors, antara lain tentang totalitas sebuah profesi dan bahwa nasionalisme bisa dibangun melalui berbagai cara.

Penulis: Agustinus “Jojo” Raharjo