PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Belajar dari Super Tuesday

Seorang peserta milis jurnalisme@yahoogroups.com baru-baru ini mengirim sebuah posting begini, “Beberapa minggu terakhir, saya membaca begitu banyak berita tentang pemilu yang akan digelar di AS tahun ini. Berita tentang Barack Obama, misalnya, selalu disiarkan (secara positif) oleh detik.com seolah-olah media ini mendukung obama for president.

Pertanyaan saya, apa urgensinya pemilu di AS sehingga media kita begitu gencar memberitakannya? Apa manfaatnya presiden A, B, atau C yang memimpin AS bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat indonesia?

Terakhir, bagi anggota milis ini yang bermukim di AS, apakah pemilu di Indonesia demikian gencar pula diberitakan di sana? Atau jangan-jangan, tanpa kita sadari indonesia telah menjadi negara bagian ke-51 dari AS? Kalau memang begitu, saya akan mencoblos Britney Spears sebagai presiden AS yang ke-44!”

Well, berita tentang “pemanasan” Pemilu Amerika (pemilunya sendiri baru berlangsung November nanti, dengan penahbisan presiden baru pada Januari tahun depan) memang begitu menyita kita akhir-akhir ini. Baiklah, tanpa bermaksud mencela atau apa, mari kita ambi sisi positif dari negara yang sering mengagungkan diri sebagai pelopor demokrasi modern itu.

Tak bisa dipungkiri, sorotan utama dari pentas politik Amerika kali ini adalah persaingan di kubu Demokrat. Pihak Republik harus rela tidak menjadi bahan pembicaraan karena selain kandidat presiden mereka kurang mentereng, juga akibat banyak kebijakan Presiden George Walker Bush dinilai kurang populis selama dua kali masa jabatannya.

Kompetisi antara Barack Obama dan Hillary Clinton menyita perhatian, karena kalau salah seorang di antaranya sukses menjadi Presiden AS ke-44, maka sejarah baru tercipta, apakah itu menjadi presiden AS berkulit hitam pertama, atau presiden perempuan pertama di negeri Abang Sam. So far, kekuatan mereka di Super Tuesday kemarin berimbang. Obama unggul di jumlah negara bagian yang memilihnya, sedangkan Nyonya Clinton menang dalam jumlah delegasi yang dikumpulkan.

Hillary Diane Rodham Clinton, 60 tahun, Senator dari New York, disebut- sebut sebagai otak yang mengantarkan Bill Clinton menduduki dua kali jabatan Presiden AS dari 20 Januari 1993 (menggantikan George Hebert Bush) hingga 20 Januari 2001 (digantikan George Walker Bush).

Dalam kampanye dan debat terbukanya dengan Obama, Hillary selalu menekankan pada “pengalaman” dan “track selama berada di pemerintahan”. Sekilas mengingatkan saya pada Gubernur Jakarta yang saat kampanye selalu mengulang kalimat, “Kalau saya terpilih, saya tahu apa yang akan saya kerjakan sejak hari pertama saya dilantik.” Seperti kita tahu bersama, pekan lalu wilayah pimpinannya kembali dilanda banjir besar, tak lama setelah seratus hari kursi kekuasaan direngkuhnya.

Bagaimana dengan Obama? Budiarto Sambazy dalam kolomnya di Kompas menulis, sejak tahun 2006 masa depan Obama yang cerah sudah terlihat berkat beberapa faktor pendukung. Pertama, karismanya mengingatkan orang kepada Presiden John Fitzgerald Kennedy (JFK). Musuh politiknya, Wapres Dick Cheney, mengakui kemiripan Obama dengan JFK sementara penulis pidato JFK yang sesepuh Demokrat, Theodore Sorensen, juga terang-terangan mendukung Obama. Terakhir malah adik bungsu JFK, Senator Massachusetts Edward “Ted” Kennedy mendeklarasikan keluarga Kennedy ada di belakang Obama.

Faktor pendukung kedua, sejak tahun lalu pria kelahiran Hawaii 46 tahun lalu ini sukses besar dalam penggalangan dana. Sebagian jutawan yang menyandang dana Hillary beralih ke Obama, seperti pemilik perusahaan raksasa SKG (StevenSpielberg, Jeffrey Katzenberg, dan David Geffen) atau George Soros.

Ketiga, Obama wujud dari sukses “mimpi Amerika” yang diidamkan siapa pun tanpa memandang jenis kelamin, warna kulit, agama, latar belakang, ataupun status sosial. Ia bahkan jadi contoh ideal sebuah Amerika Serikat (AS) yang “bhinneka tunggal ika”.

Ayahnya, Barack Husein Obama Sr, cendekiawan Kenya beragama Islam, sedangkan Ann Dunham, ibunya yang Kristen merupakan ilmuwan putih asal Kansas City. Ayah tirinya orang Indonesia yang Muslim. Saudara-saudara tirinya “aneka warna” karena ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan putih dan dua perempuan hitam di Kenya. Adiktirinya separuh Indonesia yang menikahi pria China. Obama sendiri menyandang gelar “Anak Menteng” karena pernah mengecap bangku kelas 1B di SD Fransiscus Asisi di Menteng Dalam atas nama Barry Soetoro, sesuai nama fam ayah tirinya, L. Soetoro.

Faktor keempat, Obama politisi muda yang merangkak dari bawah. Ia membuktikan politik pengabdian tak kenal lelah, yang jika diseriusi pasti membuahkan hasil. Ia memperdalam ilmu di Columbia University, lalu magang jadi politisi yunior selama delapan tahun di tempat-tempat kumuh di Chicago.

Apa yang diurusnya? Ia cari lowongan untuk penganggur, mendirikan pusat pendidikan remaja, memaksa gubernur membongkar asbestos karena bahan bangunan itu sumber kanker, memperluas jaringan organisasi antikenakalan remaja, membuat sistem manajemen pembuangan sampah, serta memperbaiki jalan rusak dan selokan yang tersumbat.

Kalau Anda suka membuka situs youtube untuk mencermati debat dan kampanye kandidat Presiden AS, tampak sekali Senator Junior di Illinois ini menekankan isu “perubahan”, “harapan”, “one voicer America”, dan –jangan lupa- soal “usia”. Ia menekankan, inilah saatnya bagi yang muda. Sebuah pilihan materi yang tepat, karena banyak pemilih muda belum menemukan kandidat idaman saat berada di bilik suara.

Bagaimana perjuangan mereka menuju kursi Gedung Putih pada 20 Januari 2009? Masih terlalu panjang untuk diikuti, tapi mari, jangan sungkan belajar demokrasi dari mereka yang telah lama menggelutinya. Akan ada banyak ‘show-show’ menarik yang teramat sayang untuk tidak kita petik sebagai pelajaran berharga.

Penulis: Agustinus “Jojo” Raharjo