PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Lewat…

Mantan Presiden Soeharto sudah lewat. Minggu, 27 Januari 2008, pukul 13:10 WIB di RS Pusat Pertamina karena kegagalan fungsi hampir seluruh organ tubuhnya, Situs Tempo Interaktif mengutip pernyataan Kepala Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Pusat Pertamina Yohanes George yang mengatakan kondisi Soeharto semakin memburuk sejak Sabtu, 26 Januari pukul 20.00 WIB. Saat itu, hasil laboratorium menunjukkan tanda kondisi Soeharto semakin kritis, dan seluruh keluarga tidak memaksakan tindakan medis untuk mengobati Suharto.

Uniknya, pengumuman pertama meninggalnya jenderal besar bintang lima Soeharto justru disampaikan oleh seorang kapolsek, Komisaris Polisi Dicky Sondani, yang kebetulan wilayah kekuasaannya, Kepolisian Sektor Kebayoran Baru Jakarta Selatan, antara lain meliputi RS Pusat Pertamina di Jalan Kyai Maja itu.  

Presiden Yudhoyono langsung menyampaikan pernyataan belasungkawa didampingi Wapres Jusuf Kalla dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu di Istana Negara, untuk kemudian melayat ke Jalan Cendana, Menteng. SBY pun membatalkan kedatangannya ke Konferensi Internasional Anti Korupsi di Bali dan memilih menjadi pemimpin upacara kenegaraan pelepasan jenazah Soeharto di Istana Giribangun, Karanganyar. Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa segera mengumumkan, “Hari berkabung tujuh hari sejak Minggu 27 Januari.”  

Media internasional pun bergegas menjadikan hari Minggu sebagai hari yang sibuk. Headline BBC berbunyi, “Indonesian ex-leader Suharto, 86, has died after suffering multiple organ failure for the second time this month…” Di bagian tengah, BBC menyentil julukan ‘bapak pembangunan’ yang kerap dialamatkan bagi Soeharto, “Suharto’s rule was marked by rapid economic growth and political stability. Some Indonesians fondly call him the “father of development”.   

Ending berita ini adalah isak tangis mohon pengampunan dari puteri tertua, “After his death was announced, Suharto’s eldest daughter, Siti Hariyanti “Tutut” Rukmana, told reporters: “We ask that if he had any faults, please forgive them… may he be absolved of all his mistakes.”  

Bagaimana gereja menyambut berita ini?   

Nun jauh dari Australia, saya membayangkan, wafatnya Soeharto sebelum jam dua siang masih memungkinkan para pendeta yang berkotbah di jam kebaktian sore hingga petang hari untuk mengubah topiknya. “Biar agak up to date,” mungkin begitu pikir para penguasa mimbar. Atau, mereka berpikir, jangan-jangan jemaat belum mendapat informasi mahapenting ini…  

Soalnya, tentu bukan hanya menyentil atau mengabarkan Soeharto telah “lewat”, tapi, kembali, bagaimana sikap gereja menyikapi berpulangnya sang babe? Berlomba-lomba mengelukan sebagai “father of development” jugakah? Ah, jadi ingat bahwa saat krisis melanda Indonesia pada 1998, ada guyonan bahwa gereja turut andil bersalah karena ikut mendoakan langgengnya kekuasaan Soeharto.    

Mendoakan pemimpin tentu tak salah. Roma pasal 13 menuntut soal itu juga. “Mikul dhuwur mendhem jero” juga tak salah. Persoalannya, perlu ada sikap tegas dalam menghadapi pemimpin yang korup. Bahwa seseorang ada jasanya, benar. Bahwa ia sudah meninggal, benar juga. Tapi tentu semua tidak lantas menguap kan?  

Jangan juga para pemimpin gereja bilang, “Saudara, saya tidak mau mengajak jemaat berpolitik.” Amboi, bapak-ibu pengkotbah, dengan mengajak berdoa bagi pemimpin negara dan menyelipkan kisah meninggalnya sang eyang dalam homili saja sudah termasuk berpolitik, lho. Pengertian berpolitik itu tidak sedangkal sekelompok orang yang dalam menyongsong 2009 mendatang telah mendirikan sebuah partai bernama PKPS, alias Partai Karya Pelita Suharto.  

Bapak Soeharto telah berpulang dalam usia hampir 87 tahun. Bagaimana sikap para gembala gereja terhadap semua kasus hukum dan hal ikhwal kepemimpinan nasional negeri ini? Demi pendidikan politik dan memberikan pegangan sikap bagi warga gereja, ambillah waktu berdoa, lalu janganlah tidak bersuara….

Penulis: Agustinus “Jojo” Raharjo