PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Persekutuan Doa Akhir Tahun GPdI Wilayah XI Lakukan Otokritik

No Image 1

Sidoarjo, Pustakalewi.Net – Persekutuan Hamba-hamba Tuhan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) wilayah Pasuruan Sidoarjo (Wilayah XI) di penghujung akhir tahun 2007 ini diadakan di GPdI Agape Jl. Taruna – Wage, Sidoarjo (03/12/07). Persekutuan doa dan makan bersama yang rutin dilakukan setiap bulan itu dimulai jam 10 pagi dan dihadiri oleh 70 orang para hamba Tuhan yang sebagian besar juga gembala sidang di gerejanya masing-masing.

Siang itu, Firman Tuhan dibentangkan oleh Pdt. Franky Rotti, S.Th, dari GPdI Griya Chandra Raya, Sidoarjo. Dengan mengutip Kitab Yunus 1 : 1-17, Pdt. Franky mencermati kejadian di kitab itu seringkali dialami oleh hamba-hamba Tuhan dalam melakukan pelayanannya, yaitu kehilangan kepekaan dan tidak menjadi berkat, bahkan berkelakuan lebih buruk daripada kafir.

Cerita tentang Nabi Yunus yang melarikan diri dari perintah Tuhan untuk melayani bangsa Niniwe hanya karena pernah menyakiti bangsanya, menjadi perumpamaan Pdt. Franky ketika melihat banyaknya hamba Tuhan yang mengalami kemerosotan iman saat menghadapi tekanan dinamika kehidupan masyarakat maupun perkara-perkara kecil di lingkungan sekitarnya. Karena kehilangan kepekaan akan maksud dan visi Tuhan itulah, seringkali para hamba Tuhan mengingkari komitmennya untuk melayani-Nya.

Masih sehubungan dengan kejadian yang dialami Nabi Yunus Pdt. Franky mengatakan bahwa saat ini tidak sedikit para hamba Tuhan tidak sabar akan janji-Nya. Namun tanpa kita sadari, Tuhan akan terus mengingatkan umat-Nya dengan berbagai cara untuk setia dan memahami rencana-Nya. Bahkan melalui orang yang tidak kenal Tuhan-pun, Yunus ditegur karena yang dilakukannya itu tidak-lah menjadi berkat walau dianggapnya baik.

Memperbaharui Janji

Dalam khotbahnya itu, Pdt. Franky mengatakan bahwa hamba Tuhan yang tidak tahu akan kehendak Tuhan dan melakukan pelayanannya dengan caranya sendiri adalah orang yang lebih buruk dari orang kafir itu sendiri. Tafsir itu tergambar pada Nabi Yunus yang tidak berdoa bahkan tidur pada saat badai besar menerjang kapalnya, kemudian dirinya dicampakkan ke laut dari kapal dan ditelan seekor ikan besar itu hingga dimuntahkan kembali ke darat setelah tiga hari tiga malam tinggal di dalam perut ikan itu.

Menutup penyampaian Firman-Nya itu, Pdt. Franky mengajak para hamba Tuhan untuk berkomitmen kembali ke jalan-Nya, setia pada pelayanan dan panggilannya untuk melengkapi janji Tuhan. “Janji Tuhan itu selalu indah, ada dan tiba pada waktunya”, tegas Pdt. Franky.

Ketua Majelis Wilayah XI Sidoarjo Pasuruan, Pdt. Yusak Iman Susanto ikut menyarankan para hamba Tuhan untuk memperhatikan perilakunya pada saat ibadah, selain sisi kehidupan kehariannya yang juga menjadi contoh bagi para umatnya. “Dengan diam di tempat duduknya dan tidak tidak mengobrol sendiri pada saat ibadah merupakan bentuk tanggung-jawab yang mendasar dalam menerapkan firman Tuhan”, ujar Pdt. Yusak saat memberikan kata sambutannya.

Dalam acara itu pun diwarnai kesaksian dari gembala sidang setempat dan beberapa hamba Tuhan yang hadir. Kebaktian yan diakhiri dengan doa ucapan syukur dari Pdt. Yusak itu dilanjutkan dengan makan siang dan rapat Panitia Natal bersama jemaat GPdI di wilayah Sidoarjo dan Pasuruan yang akan diadakan pada pertengahan bulan Januari 2008 ini.

(toga)