PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Gama Music School Jadi Berkat Untuk Siswa Berprestasi

No Image 1

Gresik, Pustakalewi.Net – Lembaga Gama Music School (LGMS) yang dipimpin oleh Ev. Drs. Erwanto Hadi Prasetijo (38) dan Istrinya Ida Puji H, SE menancapkan pelayanannya di wilayah di Perumahan Griya Kencana, Driyorejo, Gresik dengan membangun Play Group (PG), Taman Kanak-Kanak (TK) Putra Bangsa sejak pertengahan tahun 2003. “Di tahun ajaran baru 2008 ini, kami juga akan membuka Sekolah Dasar (SD) di rumah sebelah tempat kami melayani saat ini”, ujar Erwanto kepada Pustakalewi.Net saat ditemui di kantornya waktu lalu.

Rumah yang sudah direkayasa menjadi PG dan TK itu berdiri diatas tanah kecil berukuran 60 meter persegi. Ruang teras dan kamar depan rumah itu diubah menjadi tempat belajar mengajar dan kamar belakangnya dijadikan ruang kantor. Teras sempit rumah itu pun diubah menjadi arena bermain yang hanya berisikan kolam bola plastik.

Peran LGMS yang diperkuat lima orang pengajar itu cukup dirasakan manfaatnya bagi masyarakat yang tinggal sekitar daerah Driyorejo, khususnya di Desa Mojosarirejo. Selain memberikan pengajaran umum sesuai kurikulum departemen pendidikan nasional, sore harinya PG dan TK Putra Bangsa melalui LGMS mengadakan kursus tambahan bahasa inggris, komputer dan musik untuk menambah talenta dan wawasan para siswanya.

Erwanto menjelaskan bahwa tujuan LGMS didirikan untuk meningkatkan Imtaq (Iman dan Taqwa) dan budaya menuju pembentukan moral untuk mempersiapkan siswa masa depan yang berprestasi dalam Era Globalisasi. Dengan motivasi itu LGMS terus melakukan peningkatan kualitas metode pengajaran dan materi pendidikannya seiring dengan meningkatnya jumlah murid setiap tahunnya. “Tahun ini saja kami dipercaya membina 30 anak yang terbagi di PG dan TK”, ungkap Erwanto bapak yang juga menjadi tokoh di daerahnya.


Bermula dari penginjilan

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Orientasi Melayani (SOM) Bethany, Erwanto melakukan penginjilan di komsel (Family Altar) Driyorejo mulai tahun 1992. Seiring pertumbuhan pelayanannya itu, Erwanto menemukan banyak anak Tuhan yang tidak mampu sekolah karena masalah ekonomi. “Sekolah yang dimiliki pemerintah jaraknya sangatlah jauh dari kawasan perumahan”, keluh bapak dua anak itu.

Prihatin akan kondisi pendidikan di daerah itu, akhirnya di tahun 2000 erwanto memutuskan membuka Bimbingan Belajar (Bimbel) untuk anak-anak tidak mampu yang ada di komselnya. Bimbel yang menerapkan kasih Tuhan dalam proses ajar mengajar itu awalnya hanya diikuti 10 orang dari keluarga kristen yang ada di daerah itu. “Keputusan pendirian sekolah itu karena banyaknya anak-anak dari agama lain yang ingin ikut bimbel dari LGMS”, ujar penginjil dari Gereja Bethany itu.

Erwanto mengatakan bahwa tidak-lah mudah dalam merintis sebuah sekolah yang berbasis nasional, apalagi biaya operasional yang tinggi dan terus bertambah. Di tengah pembicaraan kami, Erwanto menceritakan bahwa ada beberapa anak yatim piatu yang bersekolah di PG dan TK Putra Bangsa secara gratis, akibatnya hingga saat ini pun kekurangan biaya operasional sekolah itu lebih banyak ditangungnya sendiri.

Menurutnya adanya orang tua asuh dan partisipasi para donatur maupun lembaga sosial di LGMS sangat menentukan perkembangan pengajaran LGMS dan pendidikan para siswa. “Sekolah ini tetap ada hanya dengan bermodalkan keyakinan kepada-Nya serta tekad yang kuat untuk melayani dan memajukan generasi bangsa ini”, tegas Erwanto saat menyelesaikan diskusi kami.

(p-sib)