PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Kebebasan Beribadah dan Pluralisme Agama di Indonesia

No Image

Melalui tulisan ini, kita hendak menyikapi isu yang marak terjadi yakni penutupan rumah-rumah ibadah oleh massa. Kita tentu belum lupa atas kejadian pengrusakan gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Rajeg, Tangerang, yang telah mengakibatkan kerugian moril dan materiil. Menarik untuk disimak bahwa yang menjadi sasaran aksi massa tersebut hanyalah rumah-rumah ibadah Kristen. Sementara rumah-rumah ibadah minoritas non-kristen seperti Hindu dan Budha hampir tak tersentuh oleh aksi-aksi tersebut. Untuk itu saya hanya memfokuskan diri pada masalah hubungan umat Kristen dan Islam saja.


Sejarah Panjang Konflik Kristen-Islam

Sejarah perjumpaan umat Islam dan Kristen memang tidak selalu diwarnai dengan konflik. Adanya bangunan gereja yang dapat berdiri tepat di samping bangunan masjid seperti HKBP Pulo Asem, Jakarta, misalnya, menjadi bukti bahwa hubungan damai antara kedua kelompok agama tersebut bisa juga terjalin. Namun di samping itu juga kita juga tidak dapat memungkiri adanya lembaran sejarah hitam yang mewarnai perjumpaan kedua kelompok agama tersebut. Terdapat sedikitnya empat konflik besar antara penganut Muslim dan Kristen.

Konflik besar pertama adalah Perang Salib yang berlangsung selama hampir 300 tahun dengan jumlah korban yang amat besar. Perang yang pertama kali dikobarkan oleh Paus Urban II untuk merebut Yerusalem dari kekuasaan kaum Muslim telah meninggalkan trauma yang amat sangat mendalam khususnya bagi umat Islam sampai hari ini. Sekalipun Perang Salib diakhiri dengan kemenangan pasukan Muslim, namun kebrutalan pasukan Kristen yang kalah perang itu telah meninggalkan bekas yang sampai saat ini tidak terhapuskan. Itu sebabnya istilah Perang Salib atau Crusade menjadi kata yang teramat menyakitkan di telinga kaum Muslim.

Konflik kedua adalah kemunduran pengaruh Islam di berbagai wilayah dunia. Kemunduran ini diawali dengan terusirnya kekuasaan Islam dari Spanyol (1492). Pada tahun yang sama sebagai buntut dari kemenangan tersebut dilakukanlah pengusiran besar-besaran terhadap umat Muslim dan Yahudi dari Spanyol dan wilayah-wilayah lain di Eropa Barat. Sejak saat itu praktis dapat dikatakan bahwa Eropa terbebas dari kaum Muslim.

Namun meskipun kaum Muslim telah kehilangan tempatnya berpijak di Eropa, kemunduran itu tidak serta merta terjadi. Pada abad ke-16 masih berdiri tiga imperium Islam yang amat berjaya. Salah satunya yang terkenal adalah imperium Utsmaniyah (Ottoman) di Turki yang jauh lebih maju dan efisien dibandingkan dengan kerajaan manapun di daratan eropa. Bahkan bisa dikatakan bahwa sampai akhir abad 17 imperium Islam masih merupakan kekuatan adidaya di dunia.

Konflik ketiga terjadi pada masa kolonialisme. Kolonialisme Eropa telah menyebabkan umat Muslim terpinggirkan di tanah airnya sendiri. Invasi bangsa Barat menyebabkan terjadinya pemaksaan kultur modernisme dan sekularisme ke dalam wilayah-wilayah yang secara umum masyarakatnya tidak cukup siap untuk menerima hal itu.

Meskipun sekurang-kurangnya sekularisme bukanlah paham yang baru bagi umat Islam, karena Ibn Rushd dan Ibn Sina’ dan beberapa tokoh pembaharuan Islam lainnya pada abad 17 telah memperkenalkan pemikiran sekularisme ini. Namun sekularisme yang dibawa oleh bangsa barat yang disertai dengan kekuatan militer telah menimbulkan luka jiwa yang teramat dalam di masyarakat muslim. Itu sebabnya masyarakat muslim selalu memandang bahwa sekularisme adalah produk Barat yang bertujuan hendak menghancurkan Islam. Era kolonialisme ini sampai sekarang masih meninggalkan bekas-bekasnya dalam bentuk berbagai konflik regional di wilayah-wilayah Islam. Konflik Israel-Palestina adalah salah satu contoh yang paling nyata.

Konflik keempat adalah peristiwa 11 September (11/9) . Peristiwa ini tidak bisa dilepaskan kaitannya dari era kolonialisme dan berakhirnya era perang dingin antara blok Timur dengan blok Barat. Era perang dingin diakhiri dengan tumbangnya Uni Soviet sehingga AS keluar sebagai negara pemenang. Dengan kekuatan ekonomi, militer dan diplomasinya, AS tidak segan-segan memaksakan kehendaknya sendiri ke berbagai wilayah yang dianggap melawan terhadap kebijakan Washington. Sepak terjang AS yang dianggap sebagian besar warga dunia sebagai arogan dan berstandart ganda makin menggumpalkan kebencian sebagian umat Islam terhadap negara tersebut. Terlebih-lebih lagi sudah menjadi rahasia umum bahwa di belakang presiden AS selalu berdiri penasihat spiritual yang tidak lain adalah tokoh-tokoh Kristen fundamentalis, seperti Billy Graham dan Pat Robertson. Namun juga perlu dicatat bahwa peristiwa 11/9 tidak berarti membelah dunia ini menjadi dua kubu yang saling bertentangan, yaitu : kubu Islam dan Barat. Pada kenyataannya reaksi keras juga muncul dari kalangan muslim atas kekejaman peristiwa 11/9 tersebut. Bahkan bisa dikatakan dunia muslim itu sendiri terbelah antara yang pro terorisme dan kontra terorisme atas nama agama.


Kesamaan Hakekat Kristen dan Islam serta Dampaknya

Kedua agama yang lahir di sama-sama lahir di wilayah semit ini mempunyai kesamaan hakekat. Bukan saja karena mereka berasal dari akar yang sama; agama-agama Abraham, tetapi juga karena sifatnya sebagai agama missioner. Kedua agama sama-sama memiliki panggilan suci untuk menyebarkan dan meluaskan pengaruh agamanya. Dan celakanya, latar belakang sejarah hitam tersebut mewarnai penyebaran kedua agama tersebut, sehingga yang terjadi bukan sekedar penyebaran agama tetapi juga persaingan agama. Dalam semangat persaingan tersebut masing-masing pihak menggunakan strategi dan metode yang sama; menyatakan klaim kebenaran atas dasar keburukan agama saingan. Klaim kebenaran hampir selalu diikuti dengan hujatan atas agama yang lain. Saling mengkafirkan agama lain bukan lagi fenomena yang aneh di negeri ini.

Dalam persaingan tersebut yang paling ditonjolkan adalah angka statistik atau komposisi demografi. Presentase umat Islam dan umat Kristen di suatu wilayah menjadi suatu realitas yang amat penting untuk selalu diperhitungkan, sebab kenaikan atau penurunan prosentase demografis dianggap sebagai cerminan yang palingjelas dan mempunyai korelasi yang kuat dengan pengaruh agama tertentu di wilayah tersebut. Dalam kaitannya dengan hal inilah jumlah tempat ibadah menjadi salah satu tolak ukur komposisi demografik suatu wilayah. Semakin banyak tempat ibadah didirikan, itu menandakan semakin bertambah umatnya.

Lalu pertanyaan yang wajar segera muncul adalah; darimana pertambahan umat itu, kalau bukan dari umat agama lain? Fenomena kemegahan sebuah bangunan gereja juga mencerminkan semakin bertambah kuatnya ekonomi umatnya. Dan pada gilirannya ini akan dipandang sebagai suatu ancaman.


Surat Keputusan Bersama Dua Menteri

Jelaslah bahwa SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No.01/BER/mdn-mag/1969 yang pada tanggal 13 September 1969 ditanda-tangani oleh (pada waktu itu) Menteri Agama KH Achmad Dahlan dan Menteri Dalam Negeri Amir Machmud, tidak hanya sekedar untuk menjaga keharmonisan hubungan antar kedua agama besar tersebut, melainkan terutama untuk menjaga agar komposisi demografi kedua umat tidak mengalami perubahan yang mengejutkan sehingga dikuatirkan akan menimbulkan gejolak. SKB dianggap sebagai senjata ampuh untuk menangkal pemurtadan, tetapi di pihak lain, SKB adalah sumber diskriminasi yang selama ini dialami oleh pemeluk agama minoritas, khususnya dalam hal membangun rumah ibadahnya sendiri. Untuk memiliki sebuah tempat sendiri kaum minoritas harus menunggu kemurahan hati para pemuka agama mayoritas di wilayahnya. Kini dengan maraknya penutupan tempat-tempat ibadah kristen di beberapa wilayah di Indonesia telah menyebabkan masyarakat terbelah paling tidak dalam dua kubu; kubu yang ingin mempertahankan SKB dan kubu yang menghendaki dicabutnya atau sekurang-kurangnya direvisinya SKB tersebut.

Kini telah melihat betapa luka sejarah masa lampau yang tidak tersembuhkan bercampur dengan berbagai isu kontemporer global maupun lokal yang telah jalin menjalin sehingga memunculkan berbagai masalah dalam hubungan antara umat Islam dan Kristen di sini termasuk soal penutupan rumah-rumah ibadah.

Saya berpendapat bahwa masalah penutupan rumah ibadah hanyalah salah satu pokok persoalan yang muncul ke permukaan. Maka kalaupun kita menggangap bahwa penyelesaian masalah pendirian rumah ibadah penting untuk dilakukan, kita tidak boleh berhenti hanya sampai disitu. Pekerjaan rumah yang jauh lebih penting adalah membangun hubungan yang harmonis, diharapkan luka-luka sejarah tersebut dapat terobati sehingga Syalom di muka bumi ini segera terwujud.

Pdt. Andar Gomos MP Pasaribu, MTh
HKBP Sidoarjo, Jawa Timur