PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Ratusan Pengungsi Ditampung Dua Gereja

No Image

Kediri, Pustakalewi.Net – Terbatasnya tempat penampungan sementara, ratusan pengungsi yang sebagian besar wanita usia lanjut dan anak-anak Gunung Kelud di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terpaksa dipindahkan ke tempat ibadah dan rumah-rumah penduduk.

“Pemindahan ini untuk memberikan tempat yang lebih baik dan layah bagi para pengungsi,” kata Letnan Kolonel Endi Servandy, Komandan Kodim 0809 Kediri yang juga Wakil Ketua I Satlak PB, kepada Pustakalewi.Net, Senin (26/11/07).

Namun proses pemindahan yang terkesan mendadak itu mengalami sedikit ketegangan antara petugas Satkorlak dengan warga pengungsi, “Mereka mengancam akan kembali ke rumah bilamana tak mendapatkan tempat di pengungsian. Mereka menolak ditempatkan di tenda darurat”, keluh Endy. “Akhirnya kami dapat memindahkan sebagian besar warga pengungsi setelah memberitahukan bahwa pemindahan ini bersifat sementara” imbuhnya.

Aktifitas pemasangan tenda-tenda bantuan Departemen Sosial oleh aparat TNI dan masyarakat di lapangan Kecamatan Wates itu terpaksa dihentikan karena hujan deras yang mengguyur terus menerus sejak beberapa hari ini hingga senin dini hari.

Menurut Endi, para pengungsi direlokasi ke lapangan Kecamatan Wates akibat tempat pengungsian gedung sekolah dipakai aktivitas belajar mengajar. Namun karena hujan deras, katanya, para pengungsi dipindah ke tempat-tempat ibadah sampai selesainya proses pendirian tenda-tenda utama yang direncanakan selesai senin malam.

Tempat yang digunakan untuk para pengungsi adalah Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Desa Tawang, GKJW di Desa Segaran dan Masjid Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Desa Gadungan. Ketiga tempat ibadah itu berada di Kecamatan wates.

Sementara itu, memasuki musim penghujan, kondisi ribuan pengungsi Gunung Kelud di empat kecamatan di Kab Kediri makin memprihatinkan. Minimnya sarana dan prasarana yang ada di lapangan membuat mereka mulai terserang berbagai penyakit dan kedinginan. Menurut data yang masuk di posko utama satlak,sejak hari pertama evakuasi hingga sekarang jumlah pengungsi yang sakit mencapai 746 orang, 17 di antaranya harus dirujuk ke rumah sakit. Jenis penyakit yang paling banyak menyerang adalah ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), diare, dan gatal-gatal.

Setiap hari pos kesehatan yang disediakan satlak tak pernah sepi oleh pengungsi yang ingin berobat. “Kondisi kebersihan para pengungsi memang sangat minim. Dengan jumlah orang yang begitu banyak, fasilitas MCK sangat tidak memadai,” ujar dr Srimuntama, penanggung jawab pos kesehatan di Balai Desa Tawang.

Selain kebersihan, kondisi ini terkait perubahan iklim yang sangat dingin disertai hujan. Akibatnya, banyak orang tua dan anak-anak yang menderita batuk dan linu (nyeri) pada persendian kaki dan tangan.

Sementara itu, sebagian laki-laki dewasa asal Desa Sugihwaras yang ditinggalkan keluarganya ke penampungan terlantar karena kesulitan makanan. Mereka terpaksa harus masak sendiri karena tidak selalu mendapat jatah dari tempat pengungsian. Mie instan pun menjadi menu favorit setiap harinya.

Masalah makanan memang menjadi perhatian tersendiri. Para relawan juru masak bagi pengungsi Gunung Kelud ini berusaha meringankan derita yang dirasakan warga. Meski hanya ada telur dan sayur mayur, para relawan juru masak selalu berusaha menyediakan menu yang berbeda.

(TS/Sambo)