PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Damarjati Supadjar: Titik Balik 2007, Dimulai dari Kaum Perempuan

Yogyakarta, (Pustakalewi.Net) – Ada berita kehilangan, nampaknya kita setiap hari terus kehilangan harta tak ternilai yaitu kebanggaan atas identitas jati diri. Lebih gawat lagi gejala ini menyerang seluruh elemen bangsa tanpa kendali. Salah satu prinsip umum kebenaran yang self confident atau terang dan wijang itu sesuatu yang prinsipium identitatis. Bung Karno bahkan pernah mengatakan bangsa yang sudah kabur atau kehilangan jatidirinya maka akan runtuh. Kata “kehilangan” sebenarnya sudah ditandai sejak 1478 M dengan sengkalan “sirna ilang kertaning bumi”. Menurut jarwan ilmu pradaksina, kala itu kehilangan ditandai dengan mukswanya Sabdo Palon (sabdo:kata, palon:wilayah). Intinya kehilangan panutan dan tempat sebagai pangkalan gelombang rahsa: eling lan waspada. Demikian, Prof. Dr. Damarjati Soepadjar seorang filsuf sufi Islam-Jawa membuka dialognya ketika ditemui Pustakalewi.net dirumahnya (24/12).

Sebagai bagian dinamika kehidupan sehari-hari, wacana kehilangan itu menjadi orasi baku dalang menjelang goro-goro, dengan contoh fenomenal kali ilang kedhunge (sungai yang menjadi dangkal), pasar ilang kumandhange (hilangnya interaksi komunitas), wong wadon ilang wirange (perempuan kehilangan ke empuannya). Padahal Indonesia ini begitu menghargai gender dan lekat dengan istilah-istilah feminin, ibu jari, ibu kota, nomor induk, jadi subannaallah jika perempuan sekarang mau disebut cewek, sebuah sebutan satu tingkat dibawah cawik dan cewok, dengan begitu wanita tanpa sungkan suka memamerkan aurat, berujung menuai godaan dan berakhir hilangnya muatan surgawi, wanita sebagai tempatnya rahim.

Mengapa titik balik justru harus dimulai dari kaum perempuan? Tematiknya wanita diambil dari tulang rusuk kiri pria, sehingga satu lapis lebih peka karena tidak berasal dari tanah, meskipun kadang lebih sering menjadi pelengkap laku dan pelengkap penderita. Sebagai seorang muslim dan justru karena kemusliman saya, saya sangat kagum pada Nabi Isa yang dilahirkan oleh perempuan bernama Mariam. Menurut pemahaman saya Maria yang tidak pernah disentuh Yusuf, melahirkan sebuah jangka dan jangkah- ujud konsep virginitas alam sebagai pusaka manteram untuk menjalani kehidupan yang benar, dan itu yang membuat Isa memahami kelembutan dan mengajarkan kasih sayang. Mariam (perempuan) adalah lambang virginitas alam, barangsiapa yakin bahwa alam itu “sumber kesucian” itulah pusaka manteram, dari rahim yang virgin itu akan muncul kebangkitan titik balik angkatan muda yang dibimbing oleh rohul kudus. Ungkap Prof. Damar panjang lebar.

Wawancara sore itu harus berhenti sejenak, karena Pustakalewi hanya diijinkan mengambil foto saat Prof. Damar dalam posisi siap, “Setidaknya sedang mingkem, karena mulut terkatup itu lambang tawaduk, tumungkul tetapi tidak ketungkul, jangan berpose seperti raksasa yang tertawa mengumbar angkara” jelas Prof. Damar setengah bercanda.

Kembali ke masalah kebangsaan, melalui terawang mistik goro-goro, Damarjati termasuk yang menganut liturgi NOTONAGORO, sebagi jembatan berantai pemimpin negara ini. NO pertama adalah Soekarno, kamadatu yang membongkar, TO, Soeharto sosok hambeg paramarta arupadatu, sayangnya kesrimpet harta, sementara Habibie, Gus Dur dan Mega bukan termasuk dalam rumus liturgi NOTONAGORO. Sesungguhnya Yudhoyono adalah NO (NA) ke tiga yang ternyata gagal meritokrasi sistem kerja labuh-labet, bahkan ketungkul (lalai) dan celakanya berorientasi ke Amerika, dan tetap bergaya seperti masa kampanye, mengumbar janji belaka. Jika suasana ini berlangsung terus maka rakyatlah yang jadi korban, korban kepentingan penguasa yang serba manipulatif di segala bidang. “Dan jangan lupa jika rakyat semakin tertindas, rakyat sudah tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa dan bukan siap-siapa, maka rakyat bisa berbuat apa saja termasuk anarkisme,” Prof. Damar setengah mengingatkan.

Selanjutnya Damarjati menggambarkan keadaan Tahun 1998 menjelang lengsernya Soeharto, ketika itu rakyat Jogja bersama Sultan meredam anarkisme dan mengumandangkan sumpah rakyat Indonesia yang berbunyi, kami rakyat Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan, kami rakyat Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa yang gandrung keadilan, kami rakyat Indonesia mengaku berbahasa satu bahasa kebenaran. “Ini merupakan sebuah bangunan kebersamaan yang jika ditindak lanjuti bisa menjadi menara kejayaan”.

Polimolog Renethon, yang menganut teori stabilitas struktural, dimana bercabang-cabangnya pohon, sungai, urat syaraf dan problem, mengikuti pola yang sama dari sebelumnya. Demikian pula perjalanan sejarah bangsa ini mempunyai siklus generasi 20 tahunan plus 3 tahunan. Tahun 1905 Jepang mengalahkan Rusia, 3 tahun kemudian 1908 merupakan momentum kebangkitan nasional. 20 Tahun dari 1905, terjadi Pemberontakan PKI melawan Belanda, dan 3 setelah itu 1928 muncul Sumpah Pemuda, 20 tahun dari 1925 Indonesia Merdeka, 1948 muncul pemberontakan PRRI Permesata Ali Muso, 20 tahun sejak 1945 pada tahun 1965 pecah pemberontakan PKI, 3 tahun kemudian tahun 1968 merupakan kebangkitan mahasiswa yang menjalankan amanat keris Empu Gandring. Yang beruntung adalah Soeharto, menangkap momentun dengan tohpati, mati atau mukti. Siklus selanjutnya peristiwa 1985, 1998 belum terlalu lama untuk di ingat. Nah, apakah 2005 –2008 merupakan bagian dari siklus itu? Prof. Damarjati termenung sejenak, dan menyulut rokok kretek dalam-dalam, asap mengepul di ruang yang penuh dengan buku, ciri akademisi yang mumpuni.

Sambil terus menghisap rokok, Damarjati menggambarkan bahwa agenda titik balik perlu ditandai dengan langkah fisik, kota pindah ke desa, ibunya kota adalah desa., sambil waspada bahwa akumuluasi bencana itu terjadi akibat penindasan, ketidak adilan dan ketidak benaran wacana, antara ucapan dan perbuatan harus cocok, pandega gerakan ini adalah perempuan. Ketika ditanya apakah perempuan itu termasuk kemungkinan pulihnya peluang Megawati untuk bersaing di kancah politik, Prof Damar tidak mengiyakan, “ Lebih umum, tidak hanya Mega, semua wanita harus berperan,” ujarnya.

Laku budaya untuk mengembalikan harkat keempuan wanita dari keterpurukan keempukan skandal nafsu, pada pertengahan 2007 Prof Damarjati bersama kelompoknya akan menggelar Bedaya Sangga Buwana, yang didukung 99 penari berstatus perawan.

Pada awal 2007 ini akan ditandai pula dengan kemajuan kajian dan penemuan-penemuan teknologi tanpa residu, seperti bioenergi, bio fuel, bahkan Hidroenergi dan energi matahari. Para pakar dan ilmuwan secara diam-diam menyiapkan penemuannya agar tidak tergesa dicaplok pemodal dan pemegang pasar.

Refleksi terakhir atas bencana gempa yang terjadi di Bantul yang kini memasuki tahapan rekontruksi, mudah-mudahan dari Bantul bisa menjadi Bantalan Tuladha (landasan panutan) kesempatan emas tumbuhnya sikap gotong royong dan kebersamaan.

Dari sisi spiritual agamis, jangan ada lagi korupsi filsafat, para Kyai dan ulama, tokoh agama dan pendeta jangan membohongi dan menakut-nakuti umat. Rahasia prinsipium kontrakdisionis (neraka), prinsipium identitatis (surga) dan prinsipium eksklusitensii terletak pada pemahaman kontrakdiktif: Tesis antitesis untuk sintesis. jangan mentertentangkan surga dan neraka, jika lawan surga adalah neraka, lawan kata ada adalah tidak ada, bisa jadi timbul pemahaman neraka itu tidak ada.

Pemimpin jangan lupa diri, karena mereka golongan yang berlebih hendaknya banyak bersyukur, dengan upacara (tatacara, etos kerja dan cara kerja, bukan sekedar tradisi) berupa garebeg, ancala putra-ancala putri (gunungan tumpeng), sehingga seharusnya persitiwa garebeg itu gunungannya tidak hanya dari Sultan, tetapi bisa dari presiden, wakil presiden, ketua DPR dan perangkat-pemerintah lainnya, Kraton menjadi fasilitator saja, dengan demikian rasa syukur itu disimbulkan bergunung-gunung.

Ketika di desak prediksi politik yang akan terjadi, Prof Damarjati menjawab, “Saya tidak meramal tetapi njangka untuk njangkah”. Laku revolusi spiiritual, rohani, batin (Krisna Murti), revolusi hatinurani kata Tyasno Sudarto, revolusi spiritual tanpa huru hara dan mempertajam potensi materam, miskin yang sabar sama dengan kaya yang syukur, tdk terkena oleh goncangan apapun, oleh karena itu sudah saatnya Sultan HB X harus bersiap untuk menjadi RI 1 atau RI 2 dengan sayarat didukung oleh kekuatan independen, bukan kekuatan partai, untuk memerdekaakan rakyat dari penindasan, ketidak adilan, dan ketidak benaran. Sehingga antara fungsi dan makna kedudukannya sebagai Hamengku Buwono, benar-benar sampai hamemayu hayuning buwono.

Demikian perbincangan dengan Prof. Damarjati Soepadjar yang dirangkum kembali dan dibahasakan oleh pewancara PustakaLewi.Net. Wawancara berlangsung di rumahnya yang asri di kawasan Sleman Yogyakarta 24 Desember 2006. Adakah manfaat yang bisa dijadikan kaca benggala refleksi akhir Tahun 2006? Tentu kesemuanya diserahkan para pembaca yang budiman.

(vie/ Kijogogati)